there’s no free lunch

Tidak ada makan siang gratis!”, berulangkali sahabatku itu mengatakannya di hadapanku dan beberapa sahabat dalam sebuah perjumpaan. “Jika hari ini kamu membayarkan makanku, artinya besok atau lusa, akupun harus membayarkan makanmu“, imbuhnya lagi menambahkan.

Berkerut keningku mencerna kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya. Tak pernah aku menduga, akan begitu ia mengartikulasikan sebuah persahabatan. Kukira, hubungan baik kami selama ini, benar-benar dijalankan dengan tulus, tanpa pamrih apapun. Kalimat yang dia sampaikan itu, telah menggugurkan segala kesan baikku selama ini terhadapnya.

Beberapa hari pikiranku cukup terganggu dengan kejadian itu. Aku sempat bertanya, seperti apakah persahabatan itu? Benarkah persahabatan itu harus berpamrih? Bukankah tanpa dimintapun, seorang sahabat akan memberi apapun yang diminta sahabatnya, semampu yang dia punya?

Kegalauanku itu akhirnya pudar ketika aku bertandang ke blog Mas Nug. Untaian puisinya tentang “sahabat sejati” mampu menyejukkan hatiku.

sahabat sejati

Sahabat Sejati
By: ASN, Jakarta, 19 April 2010

Ketika langit terlihat gelap tak bersahabat
Kau justru datang menghampiri
Jabat eratmu hangat alirkan darah pertemanan kita

Ketika banyak orang menyingkir
Bersembunyi mencari aman dibalik kontroversi langkah prinsipku
Kau tetap disana dengan senyum mu, beri ruang luas bagi privacy ku

Ketika taliku terputus dan aku meluncur deras kebawah
Kau spontan bereaksi tanpa diminta
Lemparkan pengait dan tali hentikan jatuhku

Ketika keindahan direpresentasikan dengan bunga-bunga indah
Kau justru tetap jadi dirimu, sebuah daun beri keteduhan disisi bayangmu
Alirkan frekwensi indah persahabatan, bukan sibuk warnai casingnya

Terima kasih telah menjadi sahabatku..

Sahabat sejati berperan apa adanya, tahu persis dimana dan seperti apa peran yang harus jalankan.. Persahabatan beri arti lebih pada esensi dan bukan sekedar memoles casing luar persahabatan itu sendiri..

Setelah membaca bait demi bait puisi Mas Nug itu, pikiran jernihku kembali ke tempatnya semula. Aku sadar, bahwa aku terlalu berpengharapan. Seharusnya segala sesuatu haruslah dijalankan sewajarnya saja, sehingga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kekecewaan tak terlalu dalam. Kesimpulanku: “cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat kau akan membencinya, dan bencilah lawanmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat kau akan membutuhkannya….

Sebuah kejutan lagi, datang pagi ini. Koelit Ketjil mengirimiku tulisannya tentang persahabatan. Ceritanya begitu menyentuh perasaan terdalamku. Ternyata, keraguanku tentang sahabat sejati, tidaklah beralasan. Masih banyak manusia yang memiliki keputihan jiwa untuk berkorban demi sahabatnya, tanpa perlu meminta imbalan, meski sekedar ucapan “terima kasih”.

(duh… melow banget aku ini ya…? biarin deh, setidaknya ini membuktikan kalau aku juga manusia, punya hati punya rasa… hahaha…)

.

.

Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

Advertisements

4 thoughts on “there’s no free lunch

  1. Senang bisa berbagi, sahbatku..
    Aku masih percaya, banyak Sahabat Sejati dalam kehidupan ini. Betul kenyatan tak selalu sama, namun bukankah dalam banyak hal akan selalu ada seleksi alamiah..?

    Senang menjadi sahabatmu.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s