sabtu me-lindu

Aku baru saja duduk di bangku ruang tunggu bandar udara Fatmawati Soekarno Bengkulu untuk perjalanan Jakarta-Jogja ketika sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku. Kulihat, ternyata dari istriku.

“Barusan Jogja gempa”
“Oya?”
“Lumayan besar, tiga kali pula”
“Trus, bagaimana?”
“Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Cuma tadi guru Fatih nelpon kalau dia ketakutan dan sampai muntah-muntah”
“Sekarang bagaimana?”
“Sudah tenang, dan lagi tertidur di UKS”
“Syukurlah”

Ah.. rupanya trauma gempa Jogja 7 tahun silam itu masih membekas di alam bawah sadar putra bungsuku itu..

Setelah memutuskan sambungan telpon dengan istri, langsung kubuka saluran internet di ponsel. Melalui facebook dan twitter kuperoleh informasi kalau memang telah terjadi gempa pada pukul 12:14:20 WIB, yang berpusat di 104 km barat daya Kebumen Jawat Tengah dengan kedalaman 48 Km dan berkekuatan 6,5 SR.

Belum sempat kubaca lebih lanjut, panggilan untuk naik pesawat terdengar dari pengeras suara. Akupun menghentikan kegiatan tersebut dan segera menuju ke pesawat yang akan menerbangkanku ke Jakarta.

Di pesawat, aku mendapat tempat duduk di barisan paling belakang. Kebetulan, tidak ada penumpang lain di sampingku, sehingga tidak ada teman seperjalanan yang bisa diajak ngobrol untuk sekedar melepas kebosanan. Jadilah akhirnya aku asyik dengan pikiranku sendiri. Aku kembali teringat dengan pembicaraan mengenai gempa bersama istriku tadi.

Ingatanku kembali ke peristiwa gempa bumi yang melanda Jogja pada Mei 2006 yang lalu. Seperti yang pernah kuceritakan dalam postingan berjudul “Untuk Dikenang”, “Dia Mengemis” dan “Pintu Itu Terbuka”, bahwa peristiwa dahsyat itu memiliki makna besar bagiku. Peristiwa tersebut telah membuatku yang seorang pendatang menjadi “diterima” sebagai bagian dari keluarga besar kampung Kweni.

Ya.. peristiwa tersebut telah dengan gagahnya membuat kami para warga menjadi saling membahu membenahi puing-puing berserakan di hampir setiap sudut kampung. Ketika itu, warga benar-benar kompak. Tidak hanya kerusakan fisik yang kami benahi, tapi keguncangan jiwa dan pikiranpun sama-sama kami coba untuk stabilkan kembali.

Selama masa recovery, saban malam Jum’at kami mengadakan pengajian, tahlilan dan doa bersama. Kesadaran beragama warga sangat terasa kuat sekali ketika itu. Seolah, semua orang menyadari kesalahan mereka terhadap Sang Pencipta dan berupaya untuk meraih ampunan-Nya serta hidup di jalan yang diridhai-Nya.

kweni1 Kweni, 7 tahun silam

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit kehidupan sudah berlangsung normal. Warga kembali bisa beraktifitas dan semuanya menjadi kembali seperti biasa lagi. Dengan alasan kesibukan dan sebagainya, undangan pengajian, tahlilan dan doa bersama pun mulai ditinggalkan warga, satu persatu. Setelah 7 tahun berlalu, pengajian tersebut hanya diisi oleh para tetua saja. Kaum muda? Kembali sibuk dengan urusan duniawi mereka.

Aaah… Tiba-tiba aku rindu dengan situasi 7 tahun silam itu. Rindu dengan semangat kebersamaan warga. Rindu dengan ketaatan berjamaah. Rindu dengan kesadaran warga akan kekuasaan Allah SWT. Rindu dengan ramainya warga yang mengaji selepas maghrib di rumah masing-masing. Rindu dengan suasana nyaman di hati meski kampung tengah porak poranda.

Lindu (gempat) yang terjadi di hari Sabtu ini telah membuatku merindu akan situasi 7 tahun silam. Bukan rindu dengan gempanya, tapi rindu dengan kebersamaan yang sangat kental pada warga kampung ketika itu.

Berbagai pertanyaan berkecamuk di benakku di antaranya adalah, haruskah kita disadarkan akan kebesaran Allah oleh sebuah bencana?

Entahlah..

(ruang tunggu A13 bandara Soekarno-Hatta, Sabtu, 25 Januari 2014).

tulisan ini dipersembahkan untuk berpartisipasi dalam Sabtu Merindu bersama Komandan Blogcamp

7 thoughts on “sabtu me-lindu

  1. Subhanallah…………….
    ingat padaNYA disetiap detik kehidupan, membuahkan ketabahan dan ketawakaln ya Nyiak.
    ( semoga aku bisa seperti itu)
    bencana yg datang bisa diskapi dengan keyakinan bahwa yang Maha Segalanya pasti memberikannya pada kita bukan untuk suatu kesia2 an..

    Alhamdulillaah….Fatih gak apa apa …semoga segera pulih dr kekagetan nya ,aamiin

    Salam

  2. Pas lindu tengah malam itu, saya lagi meringkuk di kamar kos, demam. Mau lari keluar kamar, badan nggak kuat. Akhirnya cuma bisa pasrah aja. Alhamdulillah itu cuma lindu, bukan gempa besar seperti tahun 2006 yg lalu….
    Mungkin itu adalah salah satu hikmah bencana ya, Uda. Orang-orang jadi lebih guyub….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s