Gudeg: Ala bisa karena biasa

Sebagai oramg Minang yang lidahnya terbiasa dengan makanan pedas dan bersantan, sulit sekali bagiku untuk menikmati masakan khas Jogja yang cenderung gurih dan manis. Gudeg salah satunya.

Di masa-masa awal tinggal di Jogja beberapa tahun lalu, lidahku selalu menolak ketika dijejali makanan yang terkenal ini. Rasamya sangat aneh di lidahku. Baru satu suap, aku sudah tidak mau meneruskan lagi.

Kondisi itu terus berlagsung sampai pada saat seorang kerabat berkunjung ke Jogja dan minta diantarkan makan gudeg. Karena merasa sungkan dengan kerabat tersebut, kusantap juga makanan yang terhidang di hadapanku itu hingga habis. Entah kenapa, sampai pada suapan terakhir, aku menemukan suatu rasa yang membuatku berkeingin mencicipinya kembali di lain kesempatan.

Setelah beberapa kali mencoba, akupun akhirnya menyukai makanan khas masyarakat Yogyakarta tersebut. Berkat memaksakan diri, dari tidak suka, jadinya aku sangat menyukainya.

So… jangan buru-buru menolak sesuatu. Kenali dan perhatikan terlebih dahulu baik-baik, baru putuskan; ambil atau tidak. Karena, kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari satu-dua kali saja berelasi dengannya. Ibarat kata pepatah, “ala bisa karena biasa”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s