Teruslah Melangkah

“Aku mundur saja ya Bang ngurusin TPA di mushalla kita”, ujar Irsya ketika bertemu denganku di suatu pagi

“Lha, kenapa? Kok tetiba kamu ngomong kayak gitu?”

“Enggak apa-apa, Bang. Cuma pengen ganti suasana”

“Ini pasti gegara si Windra ya?” todongku

Irsya sedikit gelagapan ketika kutodong dengan pertanyaan itu

“Iya, Bang. Aku cape direcokin terus sama Windra. Sepertinya dia tidak senang aku di sini. Selalu saja ada masalah yang dibuat sama dia. Anak-anak sering dijadikannya sasaran, sebagai pelampiasan kemarahannya padaku. Aku tidak habis pikir, apa kesalahanku sama dia”

“Kamu nggak usah pikirin bangetlah. Si Windra itu sebenarnya lagi bermasalah dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa menerima ada orang lain yang lebih darinya. Dia belum berdamai dengan hati dan pikirannya. Santai sajalah…”

“Kalau dibiarkan, bisa berdampak buruk buat anak-anak, kan Bang?”

“Iya… Makanya kita harus bantu dia”

“Caranya?”

“Kamu tetap mengajar di sini. Fokus pada tujuan pendirian TPA ini. Jangan pedulikan orang rese kayak si Windra itu. Kalau kamu pergi, justru kamu telah membiarkan si Windra terus dalam kesalahan. Selama tujuan kita untuk kebenaran, Allah akan bersama kita, dan takkan ada satupun yang dapat menghentikan langkah mencapai tujuan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s