What if…..

Aku langkahkan kaki dengan malas ke kampus. Mengajar kelas akhir pekan terlalu banyak godaannya untuk ketunaikan. Badan yang minta diistirahatkan, atau kehidupan sosial yang perlu dipenuhi adalah di antara sekian banyak alasan yang memberatkan langkah kaki ini.

Sempat terlintas di pikiran, andai kutolak permintaan Ka Prodi tempo hari untuk menerima jadwal mengajar di akhir pekan ini, tentu tak sesusah ini hidupku. Argh.. mengapa senaif ini diriku

Memasuki kelas, kulihat satu persatu wajah mahasiswa yang hadir. Tetiba, masuk seseorang yang usianya tak terlalu jauh terpaut dariku.

“Maaf, Pak telat. Tadi saya musti ke empang dulu sebentar. Hari ini mau diambil ikannya sama toke. Saya mau pastikan semuanya beres”

“Kan bisa izin tidak masuk saja hari ini, Mas?”

“Nggaklah, Pak. Kan saya butuh ilmu dari Bapak”

Jeggeerrrrr…. bagai disambat petir di siang bolong, omongan mahasiswa tadi menghujam jantungku sangat dalam. Kalimat singkatnya itu seolah menyadarkan rasa malas yang sedari tadi menghantuiku. Kehadiranku di akhir pekan ini, ada yang menantikannya. Ladang amal terbentang luas di hadapanku.

Ah.. mengapa harus kusesali keputusan ini. Bukankah aku sudah memilih menerima tawaran tersebut sejak awal? Bukankah hidup memang penuh pilihan, dan setiap pilihan ada konsekwensinya? Jalani setiap pilihan dengan penuh tanggungjawab dan syukuri sebagai anugerah dari Sang Maha Segala. Jangan pernah berandai-andai, karena itu wujud dari ketidakbersyukuran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s