Welcome, 2019

Entah sudah berapa puluh kali kulewati jalan dari Curup menuju Bengkulu atau sebaliknya dalam kurun waktu 18 tahun belakangan. Dan entah sudah berapa puluh kali pula kulihat papan atau spanduk bertuliskan, “Rafflesia Mekar” di pinggir hutan jalan yang kulalui tersebut. Continue reading

Advertisements

lobang kacamata

Hari ini (30 Maret 2010), aku berkesempatan pergi ke Kabupaten Lebong. Kabupaten yang beribukota Muara Aman ini berjarak sekitar 2 jam dari Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong. Aku diajak rekan-rekanku di STAIN Curup untuk ikut dalam rombongan Tim Pemantau Independen Ujian Nasional SMP yang berlangsung sejak Senin, 29 Maret 2010 kemarin. Karena hari ini jadwal mengajarku agak sore, maka akupun bersedia ikut, mengingat aku belum pernah mengunjungi daerah tersebut, meski sudah hampir 10 tahun bekerja di Curup.

Menyusuri jalan Curup-Lebong membutuhkan tenaga ekstra. Jalanan menuju Lebong ternyata sangat berliku. Semakin mendekat ke Lebong, udara semakin sejuk. Daerah tersebut terletak di perbukitan, sehingga wajar saja bila udaranya dingin. Sangat jarang jalan mendatar yang kutemui di sana. Pemandangan alam yang sangat eksotis di sepanjang jalan telah mampu membayar kelelahan perjalan tersebut.

Kami berkeliling dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tidak ada yang istimewa kurasakan sejauh ini. Namun, begitu kami sampai di SMPN 04 Lebong Utara, mataku tertumpu pada sebuah pemandangan nan aduhai. Di samping sekolah tersebut terdapat sebuah bukit batu yang cukup tinggi. Bukit tersebut adalah bekas tambang emas yang sempat menjadi tambang favorit di zaman dahulu. Bahkan, konon emas yang nangkring di puncang Monumen Nasional (Monas) Jakarta berasal dari tambang ini. Continue reading

kopdar bonus

Kunjunganku ke Sumbar ternyata berbonus kopdar dengan beberapa blogger ngetop. Mereka adalah orang-orang yang lumayan akrab di dunia maya, tapi belum pernah bertemu muka.

Padang

Begitu sampai di kota ini, aku coba kontak Imoe dan Arif. Ternyata, cukup sulit untuk bertemu pada situasi seperti ini. Imoe yang tengah sibuk dengan urusan recovery mental anak-anak bersama Lembaga Perlindungan Anak, berusaha mencari celah waktu untuk dapat bertemu. Sementara Arif, yang masih muda belia itupun harus berusaha menyusun strategi agar dapat izin keluar malam dari sang ayah. Akhirnya, dengan berbagai usaha, kamipun berhasil bertemu. Continue reading

man-ja

Karena di kota Padang saluran PAM putus, maka kami tidak bisa melakukan ritual bersih-bersih diri alias mandi selama dua hari. Jangan ditanya bagaimana rasa dan baunya badanku. Tapi, itu semua tidak jadi soal. Bukankah manusia se kota Padang pada hari-hari belakangan ini juga pada gak mandi alias man-ja (mandi jarang)? Hehehe…

Jum’at pagi, 9 Oktober 2009, aku diajak adik-adik relawan untuk mandi di sungai Lubuk Minturun. Tanpa tawar menawar lagi, ajakan itu langsung kusambut dengan gegap gempita (halah, lebay). Terbayang sudah nikmatnya membasahi tubuh dengan air sungai yang jernih dan berbatu itu. Continue reading

pariaman laweh

Ada perasaan yang berbeda ketika aku menginjakkan kaki kembali di bumi Minangkabau pada Rabu 7 Oktober 2009 yang lalu. Bencana gempa bumi yang melanda ranah tersebut beberapa hari sebelumnya membuat kepulanganku kali ini dipenuhi emosi yang tak menentu. Rasa ingin segera bertemu dengan sanak famili serta sahabat-sahabat lama, bercampur dengan keharuan melihat kehancuran di sana-sini. Visualisasi yang ditinggalkan akibat pemberitaan di televisi telah mampu mempengaruhi emosiku.

Begitu bertemu dengan sahabatku Darmon, yang menjemputku di bandara, tak kuasa kubendung keharuanku. Kujabat erat tangannya, berharap agar dapat kubantu ringankan bebannya, meski sedikit. Dia termasuk salah satu dari korban gempa bumi itu. Rumahnya di Lubuk Alung tak luput dari kerusakan. Tapi, dengan tekad ingin membantu warga yang kesusahan, dengan segala kemampuannya, dia lakukan apa saja untuk itu, termasuk menghubungiku sehari jelang keberangkatanku ke Padang. Continue reading

pulang

Seperti yang kuceritakan pada postingan sebelum ini, bahwa sejak gempa melanda Sumatera Barat, kami berusaha untuk mengontak seluruh keluarga di Sumbar, terutama yang di Padang. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang luar biasa, akhirnya aku dapat terhubung dengan kakakku di Padang. Meski hanya sms, tapi itu sudah cukup melegakan. Kakak dan adikku beserta keluarganya yang ada di Padang, alhamdulillah selamat. Meski rumah mereka porak poranda, tapi itu tidak lantas mengurasi rasa syukur kami.

Selanjutnya aku pun berhasil menghubungi Imoe, sahabat blogger. Dari sms yang dikirimnya, akupun dapat mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Soal kerusakan rumah, entahlah, karena itu sudah tidak menjadi fokusku lagi. Yang penting ia selamat. Begitupun dengan Arif “aurora”. Secara mengejutkan dia tampil memberi komen di postingan terdahulu dan bahkan sudah membuat sebuah postingan di blognya. Alhamdulillah… Continue reading

sumbar dan yogya

Sumatera Barat (Sumbar) dan Yogyakarta adalah dua daerah yang mendapatkan tempat khusus di hatiku. Sumbar adalah daerah asal keluarga besarku dan Yogyakarta adalah tempat aku tinggal sekarang ini. Entah kenapa, begitu banyak kesamaan antara kedua daerah ini.

Di antaranya, budaya. Kedua daerah ini sangat terkenal dengan adat-budaya yang kental. Sumbar dengan adat Minangkabau-nya dan Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedua budaya ini begitu kental dan cukup memberi identitas tersendiri bagi Indonesia. Dari segi alam, kedua daerah ini juga memiliki kesamaan. Sumbar terkenal dengan pantai dan gunungnya, Yogyakarta-pun demikian. Bahkan, gunung yang ada di kedua daerah itu pun memiliki nama yang sama, yakni Merapi. Satu lagi contoh kesamaannya adalah nomor polisi kendaraan bermotor. Di Sumbar, menggunakan “BA”, sementara Yogyakarta menggunakan “AB”. Sebuah kesamaan yang bukan kebetulan sepertinya bukan? Continue reading