konfusius, guru dunia

confusiusSudah punya rencana menghabiskan akhir pekan kali ini? Kalau belum, kusarankan Anda untuk menonton film “Confusius“. Sungguh, film itu sangat bagus. Ada banyak pencerahan yang diperoleh dari tontonan tersebut. Kalau perkara sinematografi, tak pantaslah aku bicarakan, secara aku tak punya kapasitas apa-apa di bidang itu. Pesan yang terkandung di film itulah yang membuatku menyarankan untuk menontonnya. (suwer takewer-kewer, ini bukan pesan sponsor!)

~oOo~

Agaknya tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan kalau Konfusius adalah guru dunia. Betapa tidak? Ajarannya soal etik dan politik sungguh banyak memberi pengaruh. Salah satu kalimat yang dia ucapkan, lebih kurang berbunyi: “Jalankanlah politik itu dengan sopan“, agaknya patut untuk diresapi oleh para politisi kita dewasa ini. Menurutnya, seni memerintah adalah seni bagaimana mengatur kepentingan banyak orang. Sebelum dapat mengatur orang lain, maka seseorang harus mampu mengatur dirinya sendiri. Moral adalah kunci utama untuk itu. Continue reading

Advertisements

separuh seleraku pergi

Sedari pagi aku sudah janji dengan Afif untuk mengantarnya membeli tas yang sudah lama diidamkannya. Aku menyanggupinya karena memang sudah sangat jarang aku memiliki waktu berdua dengannya. Sejak menginjak usia remaja, dia sudah memiliki dunia dan aktivitasnya sendiri.

Habis maghrib, kami pun berangkat. Setelah membeli tas yang dimaksud di kawasan Malioboro, akupun mengajaknya makan malam. Pilihan jatuh ke warung ayam bakar di kawasan Jl. Taman Siswa. Beberapa kali kami pernah makan di situ, masakannya lumayan enak. Warung pinggir jalan yang hanya buka pada malam hari itu, selalu dipenuhi pengunjung.

Selagi asyik menikmati makanan sembari ngobrol dengan anak bujangku itu, tiba-tiba seorang pengamen masuk. Setelah menyelesaikan lagu pertama, diapun melanjutkan ke lagu kedua. Ayam bakar yang terasa nikmat tadi itupun seketika terasa hambar bagiku. Pasalnya adalah karena lagu yang dinyanyikan si pengamen, yaitu Separuh Jiwaku Pergi, milik Anang Hermansyah. Continue reading

biarkan aku kembali

Tanpa sengaja, aku menemukan lagu lawas dari Indra Lesmana berjudul “Biarkan Aku Kembali”. Menyentuh sekali; nada dan syairnya begitu pas menyatu dengan suara indah Indra Lesmana. Meski sudah cukup lama dikeluarkan, yakni pada tahun 1994, tapi lagu ini tetap terasa indah dan senantiasa baru. Coba simak syairnya:

Jauhnya melangkah
Tak terasa lelah yang menerpa
Kini kian dekat
Segala yang pernah kudamba

Lalu darimana datangnya rindu ?

Sarat dengan beban
Walau dapat tertanggulangi
Tetapi terkadang
Ingin semua dapat kulupakan

Entah darimana datangnya rindu..
Membuat ku ingin berlari

Biarkan aku kembali
Bermain, berlari, berputar, menari…
Biarkan aku kembali
Dimana ku selalu terlindungi

Dapat ku melihat
Kehidupan di depan mataku
Selalu kusyukuri
Segala yang kini kunikmati

Lalu bagaimana datangnya rindu ?
Membuat ku ingin berlari

Biarkan aku kembali
Berkhayal..
Melayang terbang jauh tinggi
Biar kupejamkan mata
Sejenak kembali…
Masa kecilku…

Silahkan simak lagunya:

Syair yang ditulis Mira Lesmana ini, seolah mencerminkan bagaimana indahnya masa kecil Indra Lesmana bersama orangtuanya. Sehingga, ketika kelelahan jiwa yang menerpanya di masa dewasa dapat diistirahatkan dengan mengingat masa kecil dahulu.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana bila seseorang yang memiliki masa kecil tidak bahagia? Adakah ruang rindu baginya akan masa-masa itu???

Syair diambil dari sini

king

Satu lagi film yang akan menggugah semangat juang meraih cita-cita dan nasionalisme ditayangkan pada masa liburan sekolah kali ini. Judulnya “King”, terambil dari nama seorang pebulutangkis legendaries Indonesia, Liem Swie King. Menurut Ari Sihasale, sang sutradara, film ini memang terinspirasi dari kisah hidup Liem dalam buku biografinya “Panggil Aku King”. Continue reading

garuda di dadaku

GDDSetelah “Laskar Pelangi”, film”Garuda Di Dadaku” (GDD) patut dijadikan tontonan keluarga Indonesia. Meski film ini sederhana, tapi makna yang ditinggalkannya tidaklah sederhana. Makna yang mana tidak kutemukan dalam film “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB), film yang digadang-gadang sebagai film terdahsyat tahun ini, dengan biaya yang sangat fantastis, sama sekali tidak memiliki visualitas apapun di benakku setelah menontonnya. GDD memberikan banyak pembelajaran dan hikmah buat kita, terutama soal kerja keras untuk mencapai tujuan dan nasionalisme. Continue reading

doyok

Aku sedang tidak membicarakan Doyok yang pelawak itu. Tetapi, Doyok yang kumaksud adalah seorang tokoh kartun ciptaan Keliek Siswoyo yang pernah menghiasi halaman harian Pos Kota sejak tahun 1978 yang lalu. Meski sekarang sudah tidak pernah kutemukan lagi, tapi dulu cerita Doyok ini nyaris mengisi hari-hariku.

Ketika itu aku kelas V SD. Papa membuat kandang ayam di halaman belakang rumah. Tujuannya, untuk mensuplai kebutuhan ayam di rumah makan kami. Kalau alasan lainnya, sudahlah pasti karena alasan ekonomi; menguasai dari hulu hingga hilir, halah!

Kandang-kandang itu terdiri dari lima kelompok. Yakni kelompok berdasarkan umur ayam-ayam tersebut; 1 hingga 5 minggu. Setiap kandang berisi 200 ayam. Pada minggu kelima, ayam-ayam tersebut sudah bisa dipanen.

Aku cukup antusias membantu Papa ketika itu. Setiap habis pulang sekolah, nyaris kuhabiskan waktuku untuk mengurusi ayam-ayam tersebut. Mulai dari mempersiapkan kandang untuk anak ayam yang baru datang sampai memberi vaksin ke hewan-hewan tersebut aku lakoni. Aku betul-betul menjalani pekerjaan itu dengan gembira. Apalagi aku mendapat upah dari pekerjaan itu, yakni bila ada tetangga yang membeli langsung ke kandang, seluruh uangnya untukku. Wah, betapa bahagianya diriku ketika menerima uang hasil jerih payahku… 🙂 Continue reading

angels and demons

Akhirnya, jadi juga nonton film Angels and Demons. Padahal, istriku sudah beberapa kali mengajak untuk menonton. Karena tidak ketemu waktu yang pas, maka tertundalah terus rencana itu. Kemarin sore, niat itupun terwujud. Hore..! (halah, berlebihan kali, hehe…).

Film ini akan terasa lebih nikmat bila anda sudah menonton film sebelumnya, “The Da Vinci Code”, film yang dulu pernah menjadi kontroversi karena berlatar ajaran Katolik. Sebagaimana Da Vinci, film ini juga mengisahkan petualangan memecahkan simbol-simbol yang lagi-lagi berhubungan dengan Katolik.

Dari awal sampai akhir, ada beberapa bagian yang aku kurang mengerti, terutama yang berkaitan dengan tradisi Vatikan dan istilah-istilah dalam ajaran Katolik. Tapi, suguhan visualnya membuatku berdecak kagum. Meski bukan diambil dari tempat aslinya, gambar-gambar yang dimunculkan berhasil memberikan gambaran yang indah di benakku tentang Vatikan. Continue reading