3 perkara dari dulu hingga lanjut usia

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka semua hal terputus darinya, kecuali tiga perkara, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shaleh.

Konsep Islam tentang harta dan kehidupan duniawi terlihat dari hadis ini. Memiliki penghidupan yang layak di dunia sangat diperbolehkan. Tidak ada larangan untuk itu. Namun, yang perlu dicatat adalah hal tersebut bukanlah menjadi tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Penguasa Hidup, Allah SWT.

Kepemilikan tersebut hanya sebatas hidup di dunia saja. Begitu seseorang meninggal dunia, maka semuanya itu terlepas darinya. Tidak satupun dari apa yang dimilikinya di dunia, dibawa ke dalam kubur. Bahkan, tubuhnya pun hanya ditutup dengan sehelai kain yang sangat sederhana. Hanya tiga yang disebut dalam hadis di atas lah yang dibawa serta dan menjadi penjaga dirinya di alam barzakh hingga bertemu dengan Sang Pencipta kelak. Continue reading

Advertisements

kebersamaan di an-najwa

An-Najwa adalah nama masjid yang terletak di Jl. Bantul Km. 5 Pedukuhan Kweni, Bantul. Posisinya di pinggir jalan raya, sehingga sangat mudah untuk dikenali. Aku bersyukur bisa tinggal di lingkungan masjid ini. Sebab, penduduknya cukup kompak dan guyub.

Setiap Ramadhan, An-Najwa selalu menyediakan takjilan yang didapatkan dari urunan ibu-ibu sekitar masjid. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap hari, satu kelompok menyumbangkan makanan dan minuman pembuka puasa bagi jamaah yang hadir.

takjilan di an-najwa

Sambil menunggu bedug maghrib, jamaah diberi tausiyah oleh ustadz, dan di beranda samping masjid, keriuhan persiapan berbuka terjadi. Meski ramai, namun aku selalu senang melihat kebersamaan ini.. 🙂

 

 

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

sabtu me-lindu

Aku baru saja duduk di bangku ruang tunggu bandar udara Fatmawati Soekarno Bengkulu untuk perjalanan Jakarta-Jogja ketika sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku. Kulihat, ternyata dari istriku.

“Barusan Jogja gempa”
“Oya?”
“Lumayan besar, tiga kali pula”
“Trus, bagaimana?”
“Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Cuma tadi guru Fatih nelpon kalau dia ketakutan dan sampai muntah-muntah”
“Sekarang bagaimana?”
“Sudah tenang, dan lagi tertidur di UKS”
“Syukurlah” Continue reading

blog lama dilupakan, jangan..

Kalau tuan dapat kawan baru, sayang..
Kawan lama dilupakan, jangan..

Blog Surau Inyiak dengan domain http://www.hardivizon.com mengalami kerusakan lagi. Entah apa yang kupencet, tiba-tiba blog tersebut blank dan keluarlah kalimat peringatan yang mengejutkan, “Fatal Error!”. Panik..? Tentu saja..

Sebagaimana biasa, langsung saja masalah itu kulaporkan ke bidannya blog tersebut. Siapa lagi kalau bukan Jumria Rahman aka Ria. Dan setelah dicek sana-sini, sepertinya blog tersebut bakal lama “diopname”… 😦

Continue reading

kebenaran itu pahit!

Andi terdiam sesaat, hatinya masih bimbang, apakah benar yang akan dilakukannya ini? Sejenak dilihatnya lagi amplop coklat di atas mejanya. Isinya masih utuh, 30 juta! Digenggamnya dengan erat amplop itu. Kembali diteguhkannya hatinya. “Aku harus melakukannya!“, begitu ia berbisik dalam hati.

Dengan yakin, dia melangkah keluar kamar kos, menenteng sebuah tas berisi pakaian dan menggendong sebuah ransel di pundak. Di mulut gang, ia panggil sebuah becak dan meminta untuk mengantarkannya ke sebuah alamat. Hanya butuh sekitar 20 menit, ia pun sampai di alamat yang dituju. Continue reading

inyiak dan kyai

Meski berasal dari etnis yang berbeda, kata “inyiak” dan “kyai” memiliki makna yang nyaris sama dalam khazanah Bahasa Indonesia. Inyiak berasal dari Minangkabau dan kyai berasal dari Jawa. Kedua kata ini biasanya digunakan untuk gelar bagi seseorang yang memiliki pengetahuan agama Islam yang sangat baik. Mereka yang digelari ini biasanya memiliki sebuah lembaga pendidikan keislaman, yang kalau di Minangkabau bernama “surau” dan di Jawa bernama “pesantren”.

Sejarah banyak mencatat tentang surau yang dipimpin oleh para inyiak di Minangkabau. Sebut saja Inyiak Canduang sebagai contoh. Beliau yang bernama asli Syekh Sulaiman ar-Rasuly ini telah membuat sebuah langkah revolusionis dalam pendidikan agama di Minangkabau. Yakni, modernisasi pendidikan dari sistem klasik ke sistem klasikal, dari sistem halaqah di surau ke sistem berkelas di sebuah madrasah. Lembaga pendidikan yang beliau dirikan pada tahun 1928 itu bernama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di daerah Canduang yang terletak lebih kurang 8 km dari kota Bukittinggi. MTI ini telah memberi pengaruh besar di Minangkabau. Tercatat ada lebih kurang 216 cabang MTI di seluruh Sumatera Barat. MTI Canduang sering juga disebut masyarakat Minang dengan Surau Inyiak Canduang. Continue reading