gak takut kotor!

Sabtu, 24 April 2010, Ajib dan teman-temannya di TK Aisyiyah Kompleks Masjid Perak, Kotagede melakukan kegiatan outing. Kegiatannya adalah bermain lumpur di sawah. Begitu mengetahui kegiatan ini, aku langsung menyambut dengan gembira. Pikirku, kapan lagi bermain lumpur. Tidak lucu kan, kalau tiba-tiba aku berada di tengah sawah kemudian menggelimangkan lumpur di tubuh, sendirian. Apa kata dunia nantinya… hahaha… Jadi, ini ceritanya “aji mumpung” 😉

Continue reading

Advertisements

Motto Pembelajar

Salah seorang dari guru yang selalu menginspirasiku (seperti pernah kuceritakan dalam postingan berjudul “terima kasih guru) adalah KH. Hasan Abdullah Sahal. Beliau adalah putra dari salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor, KH. Ahmad Sahal, yang saat ini dipercaya untuk memimpin pesantren tersebut.

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan mengunjungi beliau. Seperti biasanya, beliau selalu menyambut kehadiran murid-muridnya dengan penuh kehangatan dan keakraban. Sikap beliau yang seperti inilah yang membuatku selalu rindu untuk terus berkunjung.

kh hasan abdullah sahal

Selayaknya bertemu dengan guru, maka berbagai nasehat dan petuahpun mengalir dari beliau. Salah satu dari banyak petuah yang beliau sampaikan kemarin adalah soal motto pembelajar. Ada empat hal yang harus menjadi motto bagi setiap pembelajar, yakni: Continue reading

dengan cinta

Salah satu anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada manusia adalah rasa cinta. Dengan cinta, dunia ini menjadi indah dan berseri. Dengan cinta, damai akan menaungi kehidupan. Seperti bait dalam lagu Titi Dj & Agnes Monica: “Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci, hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu…”.

Salah satu rasa cinta yang harus dimiliki oleh setiap kita adalah rasa cinta kepada Sang Maha Pencipta dan ciptaanNya. Kepada Tuhan, kita seharusnyalah menjalankan segala perintahNya dengan penuh cinta. Sementara kepada makhlukNya, hendaklah pula kita mencintai atas dasar kecintaan kita kepada Penciptanya, Tuhan penguasa semesta. Bila cinta kepada makhluk yang didasari perasaan semata, maka ia akan berubah menjadi senjata perusak bagi pemiliknya. Ini patut diwaspadai. Continue reading

they did it…!

Hari ini, Senin 4 januari 2010, hari pertama dalam minggu pertama di tahun yang baru, aku disuguhi sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah kejadian yang patut direnungi oleh kita semua, sebagai bangsa timur yang memiliki budaya ewuh pakewuh; tahu diri, malu, sopan santun.

Sebelum berangkat ke kampus, aku mampir dulu untuk sarapan lontong sayur Sumatera langgananku di pelataran parkir Pakualaman. Lontong sayur itu sebetulnya tidaklah begitu aduhai rasanya bila dibanding dengan lontong sayur Tek Yan di kampungku, tapi setidaknya keberadaannya cukup berhasil memenuhi rasa kangenku akan masakan khas Minang.

Di pelataran Pakualaman tersebut terdapat beberapa pedagang kuliner lainnya; ada bakso, soto, siomay, rujak es krim, dll. Beberapa waktu yang lalu, tempat itu telah direnofasi, sehingga lebih tertata rapi dan membuat suasana makan menjadi lebih nyaman.

Setelah memesan satu piring lontong tanpa telur plus karupuak lado, aku pun mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk yang nyaman. Mataku pun tertumpu pada sebuah meja yang terletak agak di sudut. Continue reading

pergilah, nak!

Minggu, 20 Desember 2009 yang lalu, Afif putra sulungku meminta izin untuk ikut kegiatan arung jeram bersama kelompok mahasiswa pecinta alam STMIK AMIKOM Yogyakarta. Akupun mengizinkannya, karena adik bungsuku Evans adalah panitianya. Lucu juga melihat Afif ikut dalam acara itu. Lha wong seluruh pesertanya adalah mahasiswa, hanya dia yang pelajar SMP.

Ini adalah kali kedua baginya mengikuti acara ini. Tahun kemarin dia juga ikut. Tahun lalu, butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengizinkannya pergi. Ada banyak kekhawatiran muncul di benakku dan istri. Kekhawatiran yang sewajarnya bagi orangtua. Khawatir dia akan mengalami hal-hal yang kurang baik, mengalami kecelakaan, dan lain sebagainya.

arung jeram afif 04arung jeram afif 05
Afif dan kelompoknya dalam arung jeram di sungai Elo, Magelang

Continue reading

napaktilas

Sejak membaca tulisan Nechan Imelda tentang kebiasaan kita memperkenalkan tempat kerja ataupun segala hal yang pernah kita lalui kepada anak-anak, aku jadi terinspirasi untuk melakukannya. Memang ada banyak hal yang belum dipahami oleh anak-anakku tentang kehidupan yang pernah dan sedang kujalani. Sebagai contoh, kampus tempatku mengajar, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup, belum pernah sekalipun aku mengajak mereka ke sana. Ada banyak alasan yang menyebabkannya, salah satunya karena terpisah oleh jarak yang cukup jauh. (saran Nechan Imelda itu dapat di baca di sini).

Salah satu yang ingin kuperkenalkan kepada anak-anakku adalah pesantren tempat aku menuntut ilmu dahulu, yakni Pondok Modern Gontor, di Ponorogo Jawa Timur. Aku ingin mereka menyaksikan sendiri bagaimana situasi pesantren itu. Selama ini mereka hanya mendengar dari ceritaku saja.

Akhirnya, kesempatan itu datang…! Continue reading

terima kasih guru

Hari ini, 25 November 2009, adalah hari guru. Terus terang, meski berprofesi sebagai guru, aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari guru. Kalau bukan karena anak-anak libur dikarenakan para guru se-DIY berupacara di Stadion Mandala Krida, tentulah aku takkan tahu kalau hari ini adalah hari guru. Huh, sungguh keterlaluan diriku ini… 😉

Guru sebagai pendidik adalah seseorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa, maupun maju-mundurnya tingkat kebudayaan tersebut, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.

Menjadi seorang guru memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sebab, ia berhadapan dengan obyek hidup, yakni para siswa (generasi). Bila terjadi kesalahan dalam mendidik, maka akan mengakibatkan terlahirnya generasi yang salah didik. Hal itu tentu tidak dapat diganti walau dengan uang dalam jumlah besar. Berbeda dengan pekerjaan lainnya yang berhadapan dengan obyek mati. Mekanik mobil contohnya, bila terjadi kesalahan dalam pekerjaannya, maka yang rusak adalah mobil itu, yang sudah barang tentu dapat diganti dengan sejumlah uang. Continue reading