Beneath Your Feet: Gumuk Pasir

One of the famous tourist spots in Yogyakarta-Indonesia is Parangtritis beach. Nearby, there are two beaches which are also exotic; Parangkusumo and Depok beach. In between, there is a tourist spot which is very beautiful, named Gumuk Pasir.beneath your feet-gumuk pasir yogyakarta indonesia

Gumuk Pasir is a large sand dune that resembles a hill due to the movement of the wind. This sand dune stretches along 15.7 kilometers from the downstream of Opak river toward Parangtritis beach and 2 kilometers from the coastline, contains fine sand.

It’s amazing to be here. Seeing our footprints on the sand which then disappear with the wind in a few seconds, is an unforgettable experience.. 🙂

p.s. In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Beneath Your Feet.”

Advertisements

Motion

Depok Beach is one of the most popular beaches in Yogyakarta, Indonesia, situated in Bantul, near Parangkusumo and Parangtritis Beaches. The beach is popular for its unusual spot. It is also popular for its serves of seafood cuisine made from fresh fish and other sea food. The beach also has fine sand. When you visit the beach, you can sit down in the sand, enjoying the beautiful panorama or you can play happily with your children as what I have done

vizon-motion-depokbeach

p.s. In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Motion.”

weekly photo challenge : family

“What can you do to promote world peace? Go home and love your family.”
― Mother Teresa

.

Memiliki keluarga (family) adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepadaku. Anugerah itu tentu saja menjadi amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Bekerja dengan sungguh-sungguh dengan terus menjaga kemuliaan diri, adalah salah satu cara untuk mensyukuri hal tersebut.

gumuk pasir-family Continue reading

dia mengemis..

Sebelum membaca yang ini, ada baiknya baca dulu tulisan sebelumnya: “untuk dikenang”

Demi mengurangi trauma anak-anakku karena gempa, kuputuskan untuk mengungsi sementara ke Jakarta. Kupikir, dengan menjauh sementara dari lokasi kejadian itu, akan dapat menjadi semacam terapi buat mereka. Apalagi, sekolah diliburkan selama dua minggu ke depan. Tiga hari setelah gempa itu terjadi, kamipun berangkat ke Jakarta.

Di Jakarta, kami tinggal di rumah kakak sepupu. Kami dilayani dengan penuh kehangatan. Apalagi kakakku itu tinggal seorang diri. Suaminya sudah tiada, anak semata wayangnya pun sedang kuliah di kota Padang. Jadilah kehadiran kami membuat dirinya merasa terhibur sekali.

Tapi, liburan mendadak itu tidak membuat diriku nyaman. Hatiku gelisah. Pikiranku tidak tenang. Ada semacam rasa bersalah di diri ini. Continue reading

untuk dikenang

Hari ini,  tiga tahun yang lalu, bumi Yogyakarta dan sekitarnya luluh lantak oleh goncangan gempa bumi. Peristiwa itu bagiku seolah ucapan “Selamat Datang” yang amat dahsyat dan istimewa. Keberadaan kami di kampung Kweni belumlah lagi lama, tidak lebih dari sebulan. Belum banyak tetangga yang kami kenal secara akrab. Terasa cukup sulit bagi kami untuk bisa berinteraksi dengan warga. Barangkali karena budaya dan bahasa kami yang jauh dari kata “sama”. Namun, peristiwa gempa bumi itu telah mempercepat semuanya. Kali ini, aku ingin menceritakannya kembali, untuk dapat mengabadikan kenangan itu bersama sahabat semua.

Sabtu pagi, 27 Mei 2006, aku sedang berada di Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur dalam rangka menghadiri Temu Akbar Alumni pada peringatan 80 tahun berdirinya pesantren tersebut. Setelah salat Subuh, aku mengajak beberapa teman untuk napak tilas di setiap sudut pesantren yang pernah menjadi bagian penting hidup kami. Satu persatu area pesantren kami lewati sambil menceritakan segala memori yang berkaitan dengan lokasi itu. Tentu saja, kegiatan itu mengundang tawa. Ya, kami menertawakan keluguan kami dahulu… 😀

Ketika sampai di depan gedung olah raga, tiba-tiba langkah kami terhenti. Secara mengejutkan, bumi bergoncang. Meski tidak terlalu keras, tapi cukup mengagetkan. Sekonyong kami lihat para santri berhamburan dari asrama-asrama mereka. Suasana gaduh segera terasa. Jantungku berdegup kencang. Continue reading

Badindin; kambangkan budayo kito

Banyak ragamnyo
Budayo datang
Budayo kito
Kambangkan juo…

Itulah penggalan dari bait lagu pengiring tari Indang, yang juga sering disebut dengan tari badindin, asal Minangkabau (Sumatera Barat).

Sebetulnya, aku sudah cukup sering mendengarkan lagu ini. Tapi, entah kenapa, baru kali ini bait-bait lagu itu menjadi perhatianku. Continue reading

Syawalan; bukti Pluralisme

Satu lagi tradisi masyarakat Jogja yang aku suka adalah syawalan. Yakni, sebuah kegiatan dimana seluruh warga kampung, dari yang paling muda sampai yang paling tua, berkumpul di suatu tempat guna saling memaafkan dengan cara saling bersalaman. Kegiatan ini dilaksanakan tidak berapa lama setelah bubaran dari melaksanakan shalat ied di lapangan. Continue reading