konfusius, guru dunia

confusiusSudah punya rencana menghabiskan akhir pekan kali ini? Kalau belum, kusarankan Anda untuk menonton film “Confusius“. Sungguh, film itu sangat bagus. Ada banyak pencerahan yang diperoleh dari tontonan tersebut. Kalau perkara sinematografi, tak pantaslah aku bicarakan, secara aku tak punya kapasitas apa-apa di bidang itu. Pesan yang terkandung di film itulah yang membuatku menyarankan untuk menontonnya. (suwer takewer-kewer, ini bukan pesan sponsor!)

~oOo~

Agaknya tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan kalau Konfusius adalah guru dunia. Betapa tidak? Ajarannya soal etik dan politik sungguh banyak memberi pengaruh. Salah satu kalimat yang dia ucapkan, lebih kurang berbunyi: “Jalankanlah politik itu dengan sopan“, agaknya patut untuk diresapi oleh para politisi kita dewasa ini. Menurutnya, seni memerintah adalah seni bagaimana mengatur kepentingan banyak orang. Sebelum dapat mengatur orang lain, maka seseorang harus mampu mengatur dirinya sendiri. Moral adalah kunci utama untuk itu. Continue reading

Advertisements

ayahku juara nomor satu sedunia

Ayah mana yang takkan melambung jiwanya bila mendengar kalimat itu dari mulut anaknya? Ayah mana yang takkan bahagia melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Ayah mana yang takkan terharu bila sang anak meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya? Dan ayah mana yang takkan terbang melayang bangga karena sang anak berhasil meraih cita-cita tertingginya?

sang pemimpiAdegan-adegan mengharubiru yang mampu mengaduk-aduk emosi itu, dapat kita saksikan dalam film Sang Pemimpi, yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi. Dalam film ini, terlihat nyata bagaimana seorang ayah dapat menjadi inspirasi bagi anaknya. Kehangatan, kelembutan sekaligus ketegasan sang ayah telah mampu membentangkan dunia luas bagi sang anak sehingga berhasil meraih mimpinya.

Aku berhasil menonton film ini pada tayangan perdananya, 17 Desember 2009 yang lalu bersama dua anakku, Afif dan Satira serta istriku. Karena film ini cukup banyak yang menantinya, maka perlu sedikit perjuangan untuk mendapatkan tiket. Beruntung, aku dapat memperolehnya pada tayangan perdana.

Adalah tiga orang remaja asal Belitong bernama Ikal, Arai dan Jimron yang terpaksa bersekolah di Manggar karena hanya itulah satu-satunya SMA Negeri di daerah mereka. Petualangan demi petualangan mereka jalani. Mulai dari bekerja di luar jam sekolah demi kehidupan mereka sampai menghadapi masalah hormonal yang mulai membara; menyukai perempuan dan ingin menonton film yang sedikit “panas”. Continue reading

king

Satu lagi film yang akan menggugah semangat juang meraih cita-cita dan nasionalisme ditayangkan pada masa liburan sekolah kali ini. Judulnya “King”, terambil dari nama seorang pebulutangkis legendaries Indonesia, Liem Swie King. Menurut Ari Sihasale, sang sutradara, film ini memang terinspirasi dari kisah hidup Liem dalam buku biografinya “Panggil Aku King”. Continue reading

garuda di dadaku

GDDSetelah “Laskar Pelangi”, film”Garuda Di Dadaku” (GDD) patut dijadikan tontonan keluarga Indonesia. Meski film ini sederhana, tapi makna yang ditinggalkannya tidaklah sederhana. Makna yang mana tidak kutemukan dalam film “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB), film yang digadang-gadang sebagai film terdahsyat tahun ini, dengan biaya yang sangat fantastis, sama sekali tidak memiliki visualitas apapun di benakku setelah menontonnya. GDD memberikan banyak pembelajaran dan hikmah buat kita, terutama soal kerja keras untuk mencapai tujuan dan nasionalisme. Continue reading

angels and demons

Akhirnya, jadi juga nonton film Angels and Demons. Padahal, istriku sudah beberapa kali mengajak untuk menonton. Karena tidak ketemu waktu yang pas, maka tertundalah terus rencana itu. Kemarin sore, niat itupun terwujud. Hore..! (halah, berlebihan kali, hehe…).

Film ini akan terasa lebih nikmat bila anda sudah menonton film sebelumnya, “The Da Vinci Code”, film yang dulu pernah menjadi kontroversi karena berlatar ajaran Katolik. Sebagaimana Da Vinci, film ini juga mengisahkan petualangan memecahkan simbol-simbol yang lagi-lagi berhubungan dengan Katolik.

Dari awal sampai akhir, ada beberapa bagian yang aku kurang mengerti, terutama yang berkaitan dengan tradisi Vatikan dan istilah-istilah dalam ajaran Katolik. Tapi, suguhan visualnya membuatku berdecak kagum. Meski bukan diambil dari tempat aslinya, gambar-gambar yang dimunculkan berhasil memberikan gambaran yang indah di benakku tentang Vatikan. Continue reading

Doa Yang Mengancam

Karena penasaran ingin melihat akting Aming dalam sebuah film “serius”, maka kemarin aku bela-belain nonton bersama istri film terbarunya yang berjudul “Doa Yang Mengancam“. Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini diadaptasi dari cerpen karya Jujur Prananto berjudul Jejak Tanah, Cerpen Pilihan KOMPAS 2002. Film produksi Sinemart ini menampilkan juga aktor-aktor yang sudah cukup dikenal seperti Titi Kamal, Ramzi, Nani Wijaya, Dedi Sutomo dan Cici Tegal.

Berikut sinopsisnya yang ku ambil dari 21cineplex.com:

Madrim (Aming), seorang kuli angkut, merasa dirinya bernasib paling malang di dunia. Kawannya, Kadir (Ramzi), seorang penjaga mushola menyarankan agar Madrim rajin sholat. Madrim mengikuti nasihat ini tapi nasibnya tak kunjung berubah. Sebuah peristiwa perampokan mengilhami Madrim. Dalam doanya ia mengancam Tuhan dan memberi tenggat waktu tiga hari. Jika doanya tidak terkabul, ia akan berpaling ke setan Continue reading

Laskar Pelangi: Banyak Beri, Jangan Banyak Minta

Akhirnya, jadi juga kami nonton film ini, setelah kemarin di hari pertama gagal karena kehabisan tiket. Padahal di hari pertama itu, cukup istimewa. Pasalnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta kru film Laskar Pelangi; Andrea Hirata sang penulis, Riri Riza sang sutradara dan Mira Lesmana sang produser mengadakan nonton bareng pada pemutaran perdananya di Jogja. Tapi kekecewaan itu terobati juga setelah menonton filmnya di hari kedua.

Secara keseluruhan film ini sangat bagus. Ceritanya cukup menggugah emosi dan gambar-gambar yang ditampilkan cukup membuat anakku berdecak kagum, “Emang itu di Indonesia Pa?, kok bagus amat? Emang ada tempat seperti itu di Indonesia?” Dan sejumlah pertanyaan lainnya yang membuatku kewalahan melayaninya. Memang harus diakui, bahwa pengambilan gambarnya sangat bagus, sehingga lokasi yang biasa-biasa saja terlihat sangat eksotis. Continue reading