tunjuk satu bintang

Minggu-minggu ini terasa berat bagiku. Terlalu banyak tekanan, terutama yang menyangkut dengan penyelesaian disertasi. Selalu saja pertanyaan “kapan selesai” berkumandang dari berbagai penjuru, membuatku semakin tertekan. Aku tidak mengerti, mengapa selalu itu yang ditanyakan setiap kali bertemu? Apakah tidak ada pertanyaan lain?

Ah… mereka tidak salah. Bukankah itu sebuah ungkapan perhatian buatku? Tapi mengapa selalu itu menjadi tekanan bagiku? Entahlah… Yang pasti pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak membuatku termotivasi untuk menyelesaikan tugasku. Continue reading

Advertisements

well-preppared

Finalis Idola Cilik di RCTI bernama Patton pada penampilannya di hari Sabtu, 24 Januari 2009 yang lalu terlihat kacau sekali. Dia tak kuasa membendung air matanya. Suara merdunya tenggelam di balik isakannya. Akupun tertegun. Ada apa dengan anak itu?

Setelah mendengarkan komentar dari para juri, barulah aku paham. Ternyata, telah terjadi kesalahan teknis. Mikrofon anak itu tiba-tiba mati di tengah-tengah dia bernyanyi. Meski akhirnya bisa diatasi, tapi mental bocah itu sudah terlanjur drop, sehingga ia tak kuasa menahan emosinya.

Kesedihan Patton dapat ku maklumi. Sebagai bocah yang masih beremosi labil, wajar saja bila ia kecewa sekali atas kejadian itu. Penampilan yang sudah dipersiapkan secara baik, tiba-tiba hancur karena sedikit kesalahan teknis. Harapan akan dihujani pujian, sirna sudah.

Kejadian seperti Patton itupun pernah terjadi pada diriku. Ketika itu, aku diminta untuk menjadi pembicara di sebuah seminar. Demi memberikan presentasi yang terbaik, maka akupun mempersiapkannya secara matang. Makalah sudahlah pasti. Slide presentasi kudesain sebagus mungkin. Agar tambah menarik, ku tambahkan efek suara dan video. Aku berharap agar materi yang kusampaikan benar-benar bisa dipahami secara baik. Continue reading

Belajar Dari Seorang Pengamen

Hari Minggu biasanya aku manfaatkan dengan bermain bersama anak-anakku, entah di rumah ataupun di luar rumah. Hari Minggu kemarin, 9 Maret 2008, kami manfaatkan dengan melakukan kerja bakti bersih-bersih halaman depan. Mulai dari sapu-menyapu sampai membereskan tanaman. Tidak lupa juga jemur-jemur kasur. “Ih, kasurnya bau pesing siapa nih?”, celetukku ketika mengangkat kasur-kasur itu keluar. Serentak anak-anakku menjawab, “adeeek…!“, sambil nunjuk ke Fatih, anak bungsuku. Sontak tawa kami meledak, dan yang diledek juga ikut-ikutan tertawa. Menyenangkan sekali. Continue reading