Khatam Quran di Sungai Janiah


Seingatku, terakhir kali berkunjung ke Sungai Janiah, salah satu destinasi wisata di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah ketika masih lagi duduk di bangku kelas satu esde. Sejak itu hingga saat ini, belum sekalipun berkunjung ke sana kembali. Continue reading

Advertisements

hijau langit

Taukah Anda, kalau di Minangkabau tidak ada yang berwarna biru? Coba saja sodorkan kepada para abege (baca: angkatan babe gue) sesuatu yang berwarna biru, pasti mereka akan katakan kalau itu bukan biru. Lantas, mereka bilang apa dong? Mereka akan bilang, itu warnanya hijau langit! 😀

Ya… sampai era 70-an, kosakata “biru” tidak dikenal di Minangkabau. Setidaknya angkatan orangtuaku ke atas, memahami bahwa warna biru itu disebut dengan hijau langit. Kalau generasi 70-an ke atas, sudah menyebut biru dengan biru, tidak lagi hijau langit. Barangkali karena mereka sudah mendapatkan pembelajaran yang benar dari sekolahnya.

Sebetulnya, aku sendiri masih terbawa-bawa dengan cara penuturan leluhurku itu. Hanyasaja, karena sudah banyak bergaul dengan berbagai etnis dan selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku sudah bisa menyebutkan biru untuk biru.

Maka, setiap kali ditanya apa warna favorit, secara spontan akan kujawab: hijau langit dan hijau daun! (halah!) 😀

hijau langit
Warna kegemaranku; hijau langit dan hijau daun… 😉

.

.

(tulisan ini asli iseng… gara-gara chatting dengan Ria dan Arif :D)

.

.

Ini adalah mirrof-post dari judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

padusi

satira1Sebagai masyarakat dengan prinsip matrilineal, membuat padusi (perempuan) dalam adat Minangkabau memegang peranan penting dan mulia. Prinsipnya–mengambil dari hadis Nabi Muhammad–posisi padusi di adat Minangkabau adalah bagaikan tulang rusuk bagi lelaki. Ia berada di sisinya, bukan di kepala, dan bukan pula di kaki.

Karena pentingnya peranan padusi tersebut, maka seluruh harta pusaka yang kebanyakan berupa tanah dan rumah, diberikan kepada mereka. Lelaki tidak memililki hak waris atas pusaka tersebut. Lelaki diharuskan mencari peruntungannya sendiri. Tidak boleh “bersembunyi” di balik harta orangtua. Continue reading

gadang sarawa

Kali ini aku mau ikutan Om Trainer membahas istilah bahasa daerah. Tentunya istilah yang mau kubicarakan adalah istilah dalam bahasa Minang. Kalau bahasa Jawa, aku takut dipelototin Lala, dan kalau bahasa Betawi, aku takut diamuk Onechan Imelda, lha wong baru nyoba pakai elu-gue saja sudah diomelin… hehehe… 🙂

Gadang sarawa, secara harfiah bermakna besar celana.
Gadang = besar
Sarawa = celana

Istilah ini dilekatkan pada seseorang yang bermulut besar tapi bernyali kecil, atau berjanji besar tapi tidak menepatinya. Continue reading