kesadaran lumba-lumba

Lelaki itu membentangkan kedua tangannya. Diam sejenak. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, diputarnya kedua tangannya, membentuk sebuah kode dengan diiringi tiupan peluit. Tiba-tiba, dua ekor lumba-lumba yang ada di dalam kolam di hadapan lelaki itu bergerak, menggoyangkan ekornya, kemudian… hup! melompat melintasi dua buah lingkaran di atas kepalanya.

lumba-lumba02lumba-lumba07lumba-lumba06
Atraksi lumba-lumba di arena Perayaan Sekaten Yogyakarta 2010

Tepuk tangan penonton yang didominasi anak-anak bergemuruh memenuhi ruangan. Sorak-sorai pun tak kalah hebatnya. Aksi kedua binatang laut yang katanya tidak boleh disebut ikan itu, cukup memukau. Semua terpana dan tertawa bahagia. Continue reading

Advertisements

kartini kampung blagu (3)

Rumah itu tidak terlalu besar, halamannyapun tidak terlalu luas. Bentuknya cukup sederhana. Tapi, suasananya mampu membuat hati setiap yang mampir menjadi nyaman dan sejuk. Halaman yang kecil itu ditumbuhi tanaman aneka rupa yang tampak terawat dengan baik. Sama sekali tidak ada pagar, mengisyaratkan kalau penghuninya sangat terbuka dengan siapa saja.

Viron mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam. Tanpa harus menunggu lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Sambil menunggu sang tuan rumah keluar, Viron memperhatikan sekeliling ruang tamu itu. Tidak ada yang mewah dari perabotannya. Sejenak matanya tertumpu pada sebuah pigura dengan foto dua sosok manusia yang sangat dikenalnya. Terasa sekali aura ketulusan cinta pada foto itu. Viron tersenyum bahagia memperhatikannya. Continue reading

contreng!

checkmarkIni bukan soal Pemilu, karena aku tidak pernah suka membicarakannya. Ini soal kesalahan kecil yang dilakukan guru di sekolah, tapi berdampak besar bagi perkembangan kejiwaan seorang anak.

Kemarin sore, putriku pulang sekolah dengan ekspresi yang tidak biasa. Gusar sekali dia sepertinya. Setelah kubujuk, dia pun menjelaskan apa penyebabnya. Ternyata, dia kecewa dengan hasil ulangannya. Dari 30 soal, dia salah 5. Akupun membesarkan hatinya.

“Uni tidak perlu kecewa seperti itu. Toh yang salah cuma lima, dikit kali kan? Coba bandingkan dengan jawaban yang benar, ada 25, jauh lebih banyak dari yang salah. Itu berarti Uni sudah bagus, dan Papa bangga sekali. Insya Allah lain kali Uni pasti lebih baik…”

Upayaku itu membuahkan hasil. Senyumnya kembali mengembang dan sepertinya rasa percaya dirinya kembali dia miliki. Syukurlah! Continue reading

Aku Sayang Ayah

Secara tidak sengaja, aku memperoleh tulisan ini dari blog salah satu sahabat: Pelangi. Karena cerita ini sangat menyentuh dan menginsprasi, maka kumuat di blogku ini, biar semakin banyak kalangan yang dapat membacanya.

Jujur, aku sudah beberapa kali membaca cerita ini, tapi entah mengapa, setiap kali selesai membacanya, aku tak kuasa membendung air mataku. Semoga ini dapat menjadi inspirasiku dalam mendidik anak-anakku. Mudah-mudahan anda juga….

Berikut ceritanya… Continue reading

Orang Besar

“Orang besar adalah yang mengabdikan dirinya di surau kecil di daerah terpencil guna mengajarkan alif ba ta…”, demikian pesan almarhun KH. Imam Zarkasyi, salah seorang pendiri Gontor.

Ketika mendengar kalimat itu, aku hampir pesimis. “Masih adakah orang seperti itu di zaman serba materi seperti sekarang ini?”, kira-kira demikian pertanyaan muncul dalam pikiranku.

pesantren-miftahul-huda.jpg

bekas sd inpres, disulap menjadi pesantren

Continue reading