laki-laki vs perempuan

Beberapa waktu yang lalu, aku bersama kawan-kawan berbagi pengetahuan dengan warga dusun Bedukan, Pleret, Bantul tentang relasi laki-laki dan perempuan.

pleret (1)

Yang menarik adalah, ketika peserta kami bagi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok Ibu-ibu dan kelompok Bapak-bapak. Masing-masing kelompok diminta untuk menuangkan persepsi mereka terhadap pasangan (persepsi perempuan terhadap laki-laki dan sebaliknya). Continue reading

Advertisements

05-05

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq“, ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Kalimat itu aku hapal dengan baik. Karena, sewaktu nyantri dulu, itu menjadi salah satu yang harus dihapal. Ketika itu, aku tidak begitu meresapi maknanya, meski aku sangat tahu terjemahannya. Sampai saat kedewasaan merayapiku dan kebutuhan akan seseorang yang akan menemaniku mengarungi hidup menyeruak, kalimat itu kembali membayang di benakku. Continue reading

kartini kampung blagu (3)

Rumah itu tidak terlalu besar, halamannyapun tidak terlalu luas. Bentuknya cukup sederhana. Tapi, suasananya mampu membuat hati setiap yang mampir menjadi nyaman dan sejuk. Halaman yang kecil itu ditumbuhi tanaman aneka rupa yang tampak terawat dengan baik. Sama sekali tidak ada pagar, mengisyaratkan kalau penghuninya sangat terbuka dengan siapa saja.

Viron mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam. Tanpa harus menunggu lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Sambil menunggu sang tuan rumah keluar, Viron memperhatikan sekeliling ruang tamu itu. Tidak ada yang mewah dari perabotannya. Sejenak matanya tertumpu pada sebuah pigura dengan foto dua sosok manusia yang sangat dikenalnya. Terasa sekali aura ketulusan cinta pada foto itu. Viron tersenyum bahagia memperhatikannya. Continue reading

kartini kampung blagu (1)

Viron memperhatikan Ida, istrinya, yang belum juga selesai berdandan. Segala bedak aneka warna ditempelkan ke wajahnya, seolah-olah wajahnya adalah kanvas yang siap dilukis apa saja. Susah benar jadi perempuan, demi penampilan, mereka rela bersusah payah. Beda sekali dengan dirinya yang sangat nyaman mengenakan celana jeans yang dipadu dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek yang dikeluarkan. Simpel dan santai, gitu katanya. Malah, di kesempatan resmi pun, sering dia bergaya seperti itu, termasuk ketika memberi kuliah. Alasannya, biar mahasiswa tidak merasa tegang dengan tampilan resmi dosennya.

“Masih lama?”
“Bentar lagi, tinggal mengoleskan sedikit lagi lipstik, habis tu kelar”
“Kelar apanya? Lha wong jilbab belum dipasang. Biasanya itu kan bisa menghabiskan waktu hampir satu jam. Gak enak tuh sama teman-temanmu di depan pada nungguin”
“Ya udah, tolong temenin mereka dulu ya, ajak ngobrol dulu, biar mereka ndak merasa dicuekin”
“Tapi jangan kelamaan ya”
“Beres” Continue reading