inyiak dan kyai

Meski berasal dari etnis yang berbeda, kata “inyiak” dan “kyai” memiliki makna yang nyaris sama dalam khazanah Bahasa Indonesia. Inyiak berasal dari Minangkabau dan kyai berasal dari Jawa. Kedua kata ini biasanya digunakan untuk gelar bagi seseorang yang memiliki pengetahuan agama Islam yang sangat baik. Mereka yang digelari ini biasanya memiliki sebuah lembaga pendidikan keislaman, yang kalau di Minangkabau bernama “surau” dan di Jawa bernama “pesantren”.

Sejarah banyak mencatat tentang surau yang dipimpin oleh para inyiak di Minangkabau. Sebut saja Inyiak Canduang sebagai contoh. Beliau yang bernama asli Syekh Sulaiman ar-Rasuly ini telah membuat sebuah langkah revolusionis dalam pendidikan agama di Minangkabau. Yakni, modernisasi pendidikan dari sistem klasik ke sistem klasikal, dari sistem halaqah di surau ke sistem berkelas di sebuah madrasah. Lembaga pendidikan yang beliau dirikan pada tahun 1928 itu bernama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di daerah Canduang yang terletak lebih kurang 8 km dari kota Bukittinggi. MTI ini telah memberi pengaruh besar di Minangkabau. Tercatat ada lebih kurang 216 cabang MTI di seluruh Sumatera Barat. MTI Canduang sering juga disebut masyarakat Minang dengan Surau Inyiak Canduang. Continue reading

Advertisements

man-ja

Karena di kota Padang saluran PAM putus, maka kami tidak bisa melakukan ritual bersih-bersih diri alias mandi selama dua hari. Jangan ditanya bagaimana rasa dan baunya badanku. Tapi, itu semua tidak jadi soal. Bukankah manusia se kota Padang pada hari-hari belakangan ini juga pada gak mandi alias man-ja (mandi jarang)? Hehehe…

Jum’at pagi, 9 Oktober 2009, aku diajak adik-adik relawan untuk mandi di sungai Lubuk Minturun. Tanpa tawar menawar lagi, ajakan itu langsung kusambut dengan gegap gempita (halah, lebay). Terbayang sudah nikmatnya membasahi tubuh dengan air sungai yang jernih dan berbatu itu. Continue reading

orang besar #2

Jamak dipahami bahwa orang besar adalah seseorang yang memiliki jabatan penting atau harta berlimpah. Pemahaman seperti itu tidaklah keliru, tapi tidak juga bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Seperti yang pernah kuceritakan di blogku ini dahulu (baca tulisanku: ORANG BESAR), bahwa aku setuju dengan definisi almarhum KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor, bahwa orang besar adalah orang yang mau mengajarkan alif-ba-ta walau di surau kecil di daerah terpencil. Continue reading

yatimkah dia?

Hari minggu kemarin, aku melakukan kesalahan kecil yang disebabkan oleh ketidaktahuanku. Tapi, kesahalan kecil itu, sangat membekas dalam di hatiku, dan membuatku memikirkan terus kejadian itu. Entah penyesalan atau kemarahan, lho kok? Begini ceritanya:

Pengurus masjid di kampungku berniat mendirikan Pondok Pesantren dan Panti Asuhan bagi anak yatim dan dhu’afa. Karena ini adalah program kemanusiaan, maka ketika mereka memintaku untuk ikut membantu, terutama mencarikan bantuan dana pembangunan gedungnya, aku langsung menyanggupinya. Continue reading

Tour de Jateng: Tersesat

Hari telah menjelang sore. Pesantren yang akan dituju di daerah Magelang masih tersisa 4. Target menyelesaikan kunjungan di Magelang sebelum Isya sepertinya tidak akan tercapai. Aku dan Rahmawan-pun terlibat dalam diskusi; apakah akan menginap di Magelang atau pulang ke Jogja.

Sambil berdiskusi, kami tetap mengarahkan pandangan ke sepanjang jalan di daerah Payaman Kabupaten Magelang tersebut. Karena kami akan menuju sebuah pesantren yang bernama Sirojul Mukhlasin. Setelah agak lama mencari, tiba-tiba mata kami tertumpu pada sebuah papan nama di pinggir jalan: “PESANTREN DAKWAH SIROJUL MUKHLASIN (PAYAMAN II)”. Continue reading

Tour de Jateng: Green and Clean

Persoalan kebersihan dan keindahan di beberapa pesantren yang saya kunjungi cukup memprihatinkan. Hal ini tentu sangat kontra produktif dengan semangat Islam sendiri; “Kebersihan adalah bagian dari keimanan”.

Dari ke-26 pesantren yang saya kunjungi di seputar Jawa Tengah, yang mendapat kedudukan terburuk adalah PP. Darul Qurro’ di Kawunganten Cilacap. Dan yang terbaik adalah PP. Al-Islah di Kebumen.

Saya ceritakan yang terbaik aja ya, kalau yang terburuk, sudah bisalah anda bayangkan sendiri… 🙂 Continue reading

Orang Besar

“Orang besar adalah yang mengabdikan dirinya di surau kecil di daerah terpencil guna mengajarkan alif ba ta…”, demikian pesan almarhun KH. Imam Zarkasyi, salah seorang pendiri Gontor.

Ketika mendengar kalimat itu, aku hampir pesimis. “Masih adakah orang seperti itu di zaman serba materi seperti sekarang ini?”, kira-kira demikian pertanyaan muncul dalam pikiranku.

pesantren-miftahul-huda.jpg

bekas sd inpres, disulap menjadi pesantren

Continue reading