nyontek?

Awalnya tulisan ini adalah komentarku di blognya Uni Marshmallow tentang budaya mencontek di dunia pendidikan kita. Tapi karena kepanjangan, maka kupikir, ada baiknya dijadikan postingan tersendiri. Lumayanlah, buat nambah-nambah jumlah postingan, hehehe… 🙂

Ceritanya terjadi ketika aku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku mengikuti ujian semester. Matakuliah yang akan diujikan hari itu lumayan berat, yakni Tafsir al-Qur’an, matakuliah pokok bagi kami yang mengambil jurusan Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin. Matakuliah ini menjadi berat, karena harus berhadapan dengan Bahasa Arab sebagai bahasa pokoknya, dan juga berbagai metodologi penafsiran; tradisional maupun kontemporer, ditambah lagi dengan setumpuk ayat yang harus kami hafal.

Dengan penuh percaya diri, akupun memasuki ruangan ujian. Aku mendapat tempat duduk di baris ketiga dari depan. Lembar soal dan jawaban dibagikan. Aku mulai menjawab satu persatu soal yang diberikan dengan penuh konsentrasi. Dua orang pengawas mondar-mandir. Beberapa saat kemudian mereka mulai kehilangan konsentrasi. Mungkin karena bosan, merekapun ngobrol sambil berbisik-bisik. Continue reading

ijazah

Gara-gara baca postingan Hery Azwan soal ujian, aku jadi ingin bercerita soal pengalaman belajar di Gontor juga.

Di awal kehadiranku di sana, Pak Kyai sudah mewanti-wanti bahwa Gontor tidak memberikan ijazah. Kalau mau belajar di sini dan siap tidak berijazah, silahkan teruskan, bila tidak sudi, silahkan belajar di tempat lain.

Waw..! ketika itu aku sedikit ragu untuk meneruskan langkah belajar di sana. Sempat terpikir untuk kembali pulang. Tapi, demi mengingat perjuangan berat yang kulalui hingga akhirnya bisa sampai diterima di Gontor, membuat tekadku membaja; “aku harus terus maju, sekali layar terkembang, bersurut aku berpantang“. Aih.. semangat kali, hehehe… 🙂 Continue reading