kapok
Hari Senin, 2 November 2009 yang lalu, aku cukup dibuat kaget dengan statusku di facebook. Kejadiannya memang sudah agak lama, namun baru hari ini bisa kusampaikan ke teman-teman semua. Karena, bertepatan dengan hari kejadian itu, aku sedang mengikuti The 9th Annual Conference on Islamic Studies di Solo, dan baru berakhir kemarin. Selama kegiatan itu, aku tidak bisa mengases internet sama sekali. Sehingga, kesulitan bagiku untuk komplain ke facebook.
Inilah status facebook-ku itu:

Status facebook yang “gak” banget itu…
Tulisan di status itu jelas bukan milikku. Meski isinya tidaklah buruk-buruk amat, tapi tentu saja itu membuatku malu. Sombong amat kesannya aku di situ ya…?
Namun, yang lebih membuatku shock adalah, bagaimana bisa orang lain masuk ke akunku, dan menulis sembarangan di situ. Melihat dari tulisannya, bisa dipahami kalau itu adalah salah satu cara beriklan. Cara beriklan seperti itu jelas tidak beretika.
Kejadian itu memberi peringatan bagiku untuk berhati-hati bila mengakses internet pada area publik, seperti hotspot gratisan di kampus atau warnet. Bisa jadi passwordku tertangkap oleh seseorang atau sejenisnya. Terus terang, aku sedikit kapok berada di area publik bila akses internet saat ini. Terbayang olehku, bila ada orang yang berniat jahat, kemudian menulis yang sangat aneh di statusku, yang itu akhirnya berakibat buruk bagi diriku. Aih…
Apakah teman-teman punya pengalaman seperti itu? Bagaimana berinternet yang aman, sehingga akun kita tidak “dibajak” orang lain? Please, berbagi pengalaman ya…
2 comments November 6, 2009
pemuda
Meski banyak yang skeptis dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, tapi aku tetap berharap momentum ini menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan kita, berbangsa dan bernegara (berblog juga…
).
Kepemudaan merupakan suatu isu yang sangat penting. Saking pentingnya, di berbagai belahan bumi ini, persoalan kepemudaan selalu menjadi fokus utama. Agama juga berbicara soal ini. Ada banyak teks keagamaan yang memberi petunjuk tentang bagaimana pemuda itu harus bersikap dan disikapi, di samping juga peringatan bila kepemudaan itu tidak diapresiasi dengan baik.
Dalam ajaran Islam, ada banyak ayat dan hadis yang berbicara tentang kepemudaan. Sebut saja sebagai contoh, kisah sekelompok pemuda yang tertidur di sebuah gua yang bernama Kahfi selama tigaratus tahun. Kisah mereka diabadikan dalam Al-Quran sebagai ibarat buat kita, betapa pemuda yang berani berkata “tidak” terhadap kemungkaran. Mereka lebih memilih mempertahankan prinsip dan meninggalkan hingar bingar duniawi, daripada menggadaikan harga diri demi kenikmatan duniawi sesaat. Mereka tercatat sebagai manusia-manusia terbaik, dan mereka adalah pemuda yang dikenal sebagai Ashabul Kahfi.
Nabi Muhammad dalam salah satu hadis beliau menyebutkan pula bahwa ada 7 golongan yang akan dilindungi oleh Allah. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya lekat dengan masjid. Lekat dengan masjid adalah sebuah perumpaan bagi pemuda yang senantiasa menjaga kesuciaan dirinya dan terus berbuat baik bagi dunia ini dengan menjadi orang berguna. Masjid adalah simbol kesalehan. Seorang pemuda yang memiliki kesalehan itu, tentulah seseorang yang istimewa. Karena, bila orang yang sudah tua menjadi saleh, adalah biasa. Namun, seorang pemuda yang saleh, tentulah luar biasa. Sehingganya, wajar bila mereka mendapat “bonus” perlindungan dari Allah.
Begitu pentingnya masa muda ini, maka ada sebuah peringatan yang menyebutkan bahwa 3 hal yang menjadi biang kerusakan seseorang adalah: waktu luang, masa muda dan kekayaan. Bila tiga hal ini, termasuk masa muda, tidak dikelola dengan baik, maka ia akan jadi bara api yang akan mengancurkan sang empunya secara perlahan tapi pasti. Perlu kewaspadaan akan hal ini.
So, selamat memperingati hari Sumpah Pemuda. Teruslah berkarya, teruslah hargai perbedaan, teruslah menjadi Indonesia, dan teruslah menjadi pemuda yang berguna…
Pemuda adalah yang berani mengatakan “Inilah Aku”, bukan yang cuma bisa bilang: “Bapakku adalah…………..”
3 comments Oktober 28, 2009
beauty of blogging
Sejujurnya, aku sudah mempersiapkan diri untuk hadir dalam peluncuran novel sahabatku DM di Jakarta. Untuk itu, akupun sudah merencanakan sebelum kembali ke Jogja dari Bengkulu, aku akan mampir dulu di Jakarta. Tiketpun kubeli; Bengkulu-Jakarta, 22 Oktober 2009 dan Jakarta-Jogja, 24 Oktober 2009 sore. Aku sudah membayangkan akan bertemu sahabat-sahabat blogger yang sering kutemui di dunia maya, secara nyata.
Namun, rencana itu akhirnya gagal. Secara tiba-tiba DM mengumumkan kalau peluncuran novelnya itu ditunda oleh pihak penerbit. Aku kecewa. Tapi, aku tahu betul, DM jauh lebih kecewa. Ingin rasanya kusegera terbang ke Bandung dan bertemu dengannya, duduk di sampingnya, berbagi kekecewaan bersamanya. Namun, kutahu, itu tak perlu kulakukan. Karena, aku sangat yakin, bahwa DM bukanlah anak kemarin sore yang menangis meronta-ronta ketika diambil permennya. Dia adalah batu karang yang kokoh, yang tetap tegar berdiri, meski gelombang menghantam tubuhnya jutaan kali. Keyakinanku itupun terbukti. Coba saja baca postingannya yang berjudul SUKSMA. (lagi…)
4 comments Oktober 24, 2009
adikku…
Acapkali rasa sayang itu muncul ketika sudah terpisah ruang dan waktu. Ketika bersama, seringkali pertengkaran dan kejenuhan mewarnai kehidupan kita. Ketika sudah tidak berjumpa lagi, rasa rindu itu selalu membayangi.
Rasa itupun muncul pada diriku, terhadap adik-adikku. Aku, yang terlahir sebagai sulung dari delapan bersaudara, dulu, merasa marah dan kesal dengan keberadaan adik-adik yang jumlahnya banyak itu. Apalagi dari kedelapan itu, tujuh di antaranya adalah lelaki alias cowok. Bayangkan, betapa hebohnya rumah kami ketika masa kecil dulu. Segala pertengkaran khas anak cowok kerap terjadi di rumah kami. Dan yang paling sering tejadi adalah, aku sebagai anak tertua, harus selalu menelan pil pahit yang bernama “mengalah”. (lagi…)
6 comments Oktober 20, 2009
man-ja
Karena di kota Padang saluran PAM putus, maka kami tidak bisa melakukan ritual bersih-bersih diri alias mandi selama dua hari. Jangan ditanya bagaimana rasa dan baunya badanku. Tapi, itu semua tidak jadi soal. Bukankah manusia se kota Padang pada hari-hari belakangan ini juga pada gak mandi alias man-ja (mandi jarang)? Hehehe…
Jum’at pagi, 9 Oktober 2009, aku diajak adik-adik relawan untuk mandi di sungai Lubuk Minturun. Tanpa tawar menawar lagi, ajakan itu langsung kusambut dengan gegap gempita (halah, lebay). Terbayang sudah nikmatnya membasahi tubuh dengan air sungai yang jernih dan berbatu itu. (lagi…)
1 comment Oktober 14, 2009
sajak sebatang lisong
by. WS. Rendra
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit
Fajar tiba
Dan aku melihat depalan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya,
aku meliat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit,
para teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun,
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bungan bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadli gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
……………….
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977, ITB Bandung
WS. Rendra in memoriam…
Selamat Jalan pujangga,
sajakmu kan selalu hidup bersama kami,
di sini,
sekarang dan nanti…
6 comments Agustus 7, 2009
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)