napaktilas
Sejak membaca tulisan Nechan Imelda tentang kebiasaan kita memperkenalkan tempat kerja ataupun segala hal yang pernah kita lalui kepada anak-anak, aku jadi terinspirasi untuk melakukannya. Memang ada banyak hal yang belum dipahami oleh anak-anakku tentang kehidupan yang pernah dan sedang kujalani. Sebagai contoh, kampus tempatku mengajar, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup, belum pernah sekalipun aku mengajak mereka ke sana. Ada banyak alasan yang menyebabkannya, salah satunya karena terpisah oleh jarak yang cukup jauh. (saran Nechan Imelda itu dapat di baca di sini).
Salah satu yang ingin kuperkenalkan kepada anak-anakku adalah pesantren tempat aku menuntut ilmu dahulu, yakni Pondok Modern Gontor, di Ponorogo Jawa Timur. Aku ingin mereka menyaksikan sendiri bagaimana situasi pesantren itu. Selama ini mereka hanya mendengar dari ceritaku saja.
Akhirnya, kesempatan itu datang…! (lagi…)
1 comment November 30, 2009
situmorang
Situmorang adalah salah satu nama marga pada suku Batak. Barangkali, nama marga ini lebih dikenal oleh kebanyakan orang Indonesia, ketimbang nama-nama marga Batak lainnya. Hal itu bisa terjadi, mungkin karena pengaruh sebuah lagu daerah Batak yang menjadikan nama marga ini sebagai judulnya. Kira-kira begini salah satu syairnya: Situmorang, Situmorang, Situmorang | Ala situ ala rude | Situmorang, Situmorang, Situmorang | Par rude-rude i tahe…
Dalam kehidupanku, ada beberapa sahabat yang bermarga Situmorang yang cukup aku kenal. Dan dalam dunia blogging, juga ada satu nama Situmorang yang cukup menarik perhatian khalayak. Dialah Eka Situmorang-Sir dengan blognya yang berjudul Ceritaeka. Kemampuannya dalam meramu kata, dengan mudah dapat mengundang pengunjung. Sehingga, dalam waktu singkat, blognya sudah masuk ke jajaran terdepan. Apalagi dalam setahun ini, dia telah memenangkan beberapa kompetisi blog.
Hari ini, Sabtu, 28 November 2009, aku mendapat kesempatan untuk bertemu muka dengannya. Eka kebetulan menghabiskan akhir pekannya di Jogja bersama suami tercinta. Aku dan Bu Tutinonka, pun saling kontak. Ada beberapa tempat yang kuajukan untuk kopdar, dan akhirnya terpilihlah Restoran Bumbu Desa sebagai tempat pertemuan kami. (lagi…)
1 comment November 28, 2009
terima kasih guru
Hari ini, 25 November 2009, adalah hari guru. Terus terang, meski berprofesi sebagai guru, aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari guru. Kalau bukan karena anak-anak libur dikarenakan para guru se-DIY berupacara di Stadion Mandala Krida, tentulah aku takkan tahu kalau hari ini adalah hari guru. Huh, sungguh keterlaluan diriku ini…
Guru sebagai pendidik adalah seseorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa, maupun maju-mundurnya tingkat kebudayaan tersebut, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.
Menjadi seorang guru memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sebab, ia berhadapan dengan obyek hidup, yakni para siswa (generasi). Bila terjadi kesalahan dalam mendidik, maka akan mengakibatkan terlahirnya generasi yang salah didik. Hal itu tentu tidak dapat diganti walau dengan uang dalam jumlah besar. Berbeda dengan pekerjaan lainnya yang berhadapan dengan obyek mati. Mekanik mobil contohnya, bila terjadi kesalahan dalam pekerjaannya, maka yang rusak adalah mobil itu, yang sudah barang tentu dapat diganti dengan sejumlah uang. (lagi…)
Add comment November 25, 2009
jangan punya anak!
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu kunyalakan sepeda motor kesayanganku untuk sekedar memanaskan mesinnya. Sambil menunggu mesin panas, kuseka setiap bagian tubuhnya dengan kain halus bekas singlet anakku. Aku asyik dengan kegiatan itu, sampai sebuah suara datang dari arah belakang dan mengagetkanku…
“Papah, papah…!”
Aku menoleh
“Hai, nak… wah, sudah rapi nih… sini gendong dulu!
Seketika bocah kecil 1 tahunan itu menghambur ke pangkuanku. Kami bergurau sambil sesekali kutuntun ia untuk membaca doa di pagi hari. Keceriaan itu sesekali ditimpali suara seorang perempuan tua yang berdiri tidak jauh dari kami.
“Wis tho Le… Papah mau antar abang sama uni sekolah. Ayo turun. Nanti pada terlambat lho…”
Seolah tak mempedulikan kalimat itu, bocah tersebut terus menggelayut di gendonganku, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dari perempuan tua tadi membuat si bocah berpindah dari gendonganku ke gendongannya.
“Dadah sayang… pergi dulu ya. Nanti sore kita main lagi, insya Allah…”
“Dadah, dadah…!”, mengalir dengan lancarnya dari mulut mungil itu.
Setelah merapikan segala sesuatunya, akupun berangkat mengantar kedua anakku ke sekolah untuk selanjutnya akupun berangkat menuju kampusku. Terasa dengan jelas di belakang punggungku sepasang mata kecil menatapku tajam hingga akhirnya akhirnya akupun menghilang di mulut gang. (lagi…)
Add comment November 24, 2009
biarkan aku kembali
Tanpa sengaja, aku menemukan lagu lawas dari Indra Lesmana berjudul “Biarkan Aku Kembali”. Menyentuh sekali; nada dan syairnya begitu pas menyatu dengan suara indah Indra Lesmana. Meski sudah cukup lama dikeluarkan, yakni pada tahun 1994, tapi lagu ini tetap terasa indah dan senantiasa baru. Coba simak syairnya:
Jauhnya melangkah
Tak terasa lelah yang menerpa
Kini kian dekat
Segala yang pernah kudamba
Lalu darimana datangnya rindu ?
Sarat dengan beban
Walau dapat tertanggulangi
Tetapi terkadang
Ingin semua dapat kulupakan
Entah darimana datangnya rindu..
Membuat ku ingin berlari
Biarkan aku kembali
Bermain, berlari, berputar, menari…
Biarkan aku kembali
Dimana ku selalu terlindungi
Dapat ku melihat
Kehidupan di depan mataku
Selalu kusyukuri
Segala yang kini kunikmati
Lalu bagaimana datangnya rindu ?
Membuat ku ingin berlari
Biarkan aku kembali
Berkhayal..
Melayang terbang jauh tinggi
Biar kupejamkan mata
Sejenak kembali…
Masa kecilku…
Silahkan simak lagunya:
Syair yang ditulis Mira Lesmana ini, seolah mencerminkan bagaimana indahnya masa kecil Indra Lesmana bersama orangtuanya. Sehingga, ketika kelelahan jiwa yang menerpanya di masa dewasa dapat diistirahatkan dengan mengingat masa kecil dahulu.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana bila seseorang yang memiliki masa kecil tidak bahagia? Adakah ruang rindu baginya akan masa-masa itu???
Syair diambil dari sini
2 comments November 23, 2009
bakaa-baka
Baka, dalam bahasa Minang berarti Bakar. Tapi jangan salah sangka dulu. Baka-baka yang kumaksud bukan kegiatan bakar-bakar. Namun, itu adalah nama sebuah villa yang terletak di pantai Carita, Pandeglang, Banten. Lantas, mengapa aku ujug-ujug bercerita soal vila tersebut?
Pada hari Sabtu-Minggu, 14-15 November 2009, kemarin, aku beserta beberapa kawan Classic’91 (apa dan bagaimana Classic’91, sila baca di sini), berkumpul di villa tersebut, untuk pembahasan sebuah ide bersama yang sudah lama kami rencanakan. Sejak pertemuan terakhir kami setahun yang lalu, beberapa kali pertemuan kecil telah digelar secara marathon; Jogja, Jakarta, Bandung dan kali ini di Carita.
Aku bersama 5 orang kawan yang berdomisili di Jogja berangkat menggunakan mobil pada Jum’at malam. Keberangkatan sempat diawali dengan ketegangan, gara-gara mobil yang mengalami sedikit kerusakan. Setelah diperbaiki sana-sini, akhirnya kamipun berangkat tepat pada pukul 23.00 wib. Selama perjalanan, ketegangan tadi sedikit demi sedikit mencair dan berubah menjadi kehebohan luar biasa. Nyaris selama perjalanan, kami tidak tidur dan diisi dengan senda gurau yang tak berkesudahan.
Sabtu, 14 November 2009, pukul 11.00 wib, kami pun sampai di tujuan. Karena pertemuan resmi dijadwalkan setelah maghrib, tentu saja villa itu masih kosong melompong. Kamilah rombongan pertama yang datang. Dengan demikian, kami dapat dengan leluasa beristirahat setelah kelelahan akibat perjalanan semalam.
Sore hari, sehabis Ashar, belum juga ada tambahan rombongan yang datang. Dalam kesunyian itu, kupandangi pantai Carita nan indah tersebut dari beranda villa yang hanya berjarak sekitar 50 meter.
Pantai ini merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dan telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam. Panoramanya sungguh indah, ditambah lagi dengan pasir pantainya yang putih membuat kawasan ini pantas untuk dikunjungi. Pantai ini kaya akan sumber daya alamnya. Hamparan tepian yang amat landai dengan ombak laut yang kecil dan lembut menyapu di sepanjang pantai, dipadu pemandangan Gunung Krakatau yang kokoh berdiri di kejauhan menjadi suguhan ukiran alam yang indah dipandang mata.
Pandangan mataku tertumpu pada keasyikan pengunjung bermain-main dengan air laut. Ada yang berenang, naik banana-boat, speed boat dan jetski. Menurut si akang yang menjadi room-boy villa, kami bisa menyewa speed boat untuk dibawa ke kawasan taman laut yang berjarak sekitar dua jam perjalanan. Tempat itu pada awalnya adalah pulau yang tenggelam. Namun dalam perkembangannya, kawasan tersebut lebih dikenal sebgai taman laut. Di sana, pengunjung dapat turun dari boat dan “menceburkan diri” ke laut yang kedalamannya hanya sebatas perut. Akan terlihat dengan jelas di sana aneka jenis ikan hias warna-warni dan tumbuhan laut yang rancak. Pengunjung dapat melihat pesona bawah laut dengan mata telanjang tatkala sinar matahari tembus sampai ke dasar laut. Berada di tengah-tengah ikanyang berenang secara bergerombolan dapat menimbulkan sensasi yang akan senantiasa tinggal di lekuk ingatan pengunjung.
Namun sayang, tawaran menarik itu terpaksa kami tampik, mengingat waktu yang sudah semakin senja. Walhasil, akupun mengajak kawan-kawan untuk menyeburkan diri ke air laut dan mengulangi kembali masa kecil kami yang kurang bahagia, hehehe…
Habis maghrib, barulah banyak yang berdatangan. Setelah Isya’, pertemuan pun dimulai. Pembahasan berbagai programpun berjalan dengan baik. Namun, di tengah-tengah pembahasan itu, ada saja celetukan aneh yang mengundang gelak tawa. Tapi, ada satu yang membuat kami geleng-geleng kepala, yakni salah seorang teman kami sempat-sempatnya jualan MLM… huahaha… ada-ada saja… Entah kenapa, secara kebetulan Om NH membahas soal kebiasaan dalam reunian, sila baca di sini.

Mengulang kembali masa kecil

Kok sempat-sempatnya jualan MLM Pak..
Pertemuan berakhir pada pukul 23.30 wib. Namun, para hadirin sepertinya tidak ingin melewatkan malam itu begitu saja. Jadilah kami tidak tidur malam itu. Setelah shalat Subuh, rasa kantuk tak tertahankan. Akhirnya, akupun tergeletak tak berdaya (halah!), sampai kemudian dibangunkan teman-teman pada pukul 08.00 wib.
Acara itu ditutup dengan sesi foto bareng (ini kudu wajib!) di depan pantai. Tujuannya, di samping untuk dokumentasi, juga agar teman-teman yang tidak datang pada iri, huahaha… jahat amat ya!
Baru kusadari, ternyata pertumbuhan kami sudah tidak lagi ke atas, tapi ke depan, hahaha…
Sebelum pulang ke daerah masing-masing, makan siang di warung sea-food adalah acara wajib. Udang, cumi dan ikan segar yang tersedia, segera kami minta untuk diolah. Cukup lama kami menunggu makanan itu matang. Maklumlah, kami memesan dalam jumlah yang lumayan banyak. Namun, penantian itu berakhir dengan gembira. Masakannya luar biasa nikmat. Terasa sekali kesegaran masakan laut tersebut. Wuih… yummy…


Masakan laut yang aduhai nikmatnya…
Pukul 12.00, seluruh rangkaian acara berakhir dan kamipun bubar dan berpencar ke daerah masing-masing. Rasanya berat untuk meninggalkan kesenangan hari itu. Namun, hidup harus terus berjalan, kami harus kembali ke rutinitas. Aih… reuni memang selalu menyisakan kebahagiaan, dengan syarat bila dilaksanakan dengan satu hati, satu tujuan: “Izakod Bekai Izakod Kai”, seperti yang dikatakan Afdhal di sini.
Thanks all my friends… See You in the next Tajammuk…
Sumber informasi:
Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada blog utamaku: www.hardivizon.com
2 comments November 18, 2009
pelajaran berharga
Ternyata, bukan hanya akun facebook-ku saja yang kena bajak, seperti yang pernah kuceritakan pada postingan sebelum ini, e-learning ku– http://ruangkuliah.hardivizon.com– pun tak luput dari sasaran kejahatan cyber. Hampir dua minggu web-ku yang satu itu “koid”, alias tidak bisa diakses. Tentu saja aku panik alang kepalang. Nyaris emailku penuh dengan pertanyaan dari mahasiswaku soal tidak bisanya mereka mengakses e-learning tersebut.
Tidak hanya itu, blog utamaku, www.hardivizon.com, pun tidak luput dari sasaran. Puluhan spam masuk dan tidak terdeteksi. Aih… rusuh nian rasanya…
Akhirnya, berkat kesabaran dan ketulusan sang dedengkot IT, Ria, kondisi itupun teratasi. Alhamdulillah, semuanya mulai hari ini sudah membaik kembali. Akupun lega… Terima kasih yang tak terhingga kuhaturkan kepada Ria. Semoga Allah membalasi kebaikan hatinya dengan pahala yang berlipat ganda.
Sebagai pembelajaran dari kejadian yang menimpaku ini, berikut aku koppas tulisannya Ria yang sudah ditulisnya beberapa bulan yang lalu, semoga bermanfaat: (lagi…)
3 comments November 17, 2009
kapok
Hari Senin, 2 November 2009 yang lalu, aku cukup dibuat kaget dengan statusku di facebook. Kejadiannya memang sudah agak lama, namun baru hari ini bisa kusampaikan ke teman-teman semua. Karena, bertepatan dengan hari kejadian itu, aku sedang mengikuti The 9th Annual Conference on Islamic Studies di Solo, dan baru berakhir kemarin. Selama kegiatan itu, aku tidak bisa mengases internet sama sekali. Sehingga, kesulitan bagiku untuk komplain ke facebook.
Inilah status facebook-ku itu:

Status facebook yang “gak” banget itu…
Tulisan di status itu jelas bukan milikku. Meski isinya tidaklah buruk-buruk amat, tapi tentu saja itu membuatku malu. Sombong amat kesannya aku di situ ya…?
Namun, yang lebih membuatku shock adalah, bagaimana bisa orang lain masuk ke akunku, dan menulis sembarangan di situ. Melihat dari tulisannya, bisa dipahami kalau itu adalah salah satu cara beriklan. Cara beriklan seperti itu jelas tidak beretika.
Kejadian itu memberi peringatan bagiku untuk berhati-hati bila mengakses internet pada area publik, seperti hotspot gratisan di kampus atau warnet. Bisa jadi passwordku tertangkap oleh seseorang atau sejenisnya. Terus terang, aku sedikit kapok berada di area publik bila akses internet saat ini. Terbayang olehku, bila ada orang yang berniat jahat, kemudian menulis yang sangat aneh di statusku, yang itu akhirnya berakibat buruk bagi diriku. Aih…
Apakah teman-teman punya pengalaman seperti itu? Bagaimana berinternet yang aman, sehingga akun kita tidak “dibajak” orang lain? Please, berbagi pengalaman ya…
4 comments November 6, 2009
pemuda
Meski banyak yang skeptis dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, tapi aku tetap berharap momentum ini menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan kita, berbangsa dan bernegara (berblog juga…
).
Kepemudaan merupakan suatu isu yang sangat penting. Saking pentingnya, di berbagai belahan bumi ini, persoalan kepemudaan selalu menjadi fokus utama. Agama juga berbicara soal ini. Ada banyak teks keagamaan yang memberi petunjuk tentang bagaimana pemuda itu harus bersikap dan disikapi, di samping juga peringatan bila kepemudaan itu tidak diapresiasi dengan baik.
Dalam ajaran Islam, ada banyak ayat dan hadis yang berbicara tentang kepemudaan. Sebut saja sebagai contoh, kisah sekelompok pemuda yang tertidur di sebuah gua yang bernama Kahfi selama tigaratus tahun. Kisah mereka diabadikan dalam Al-Quran sebagai ibarat buat kita, betapa pemuda yang berani berkata “tidak” terhadap kemungkaran. Mereka lebih memilih mempertahankan prinsip dan meninggalkan hingar bingar duniawi, daripada menggadaikan harga diri demi kenikmatan duniawi sesaat. Mereka tercatat sebagai manusia-manusia terbaik, dan mereka adalah pemuda yang dikenal sebagai Ashabul Kahfi.
Nabi Muhammad dalam salah satu hadis beliau menyebutkan pula bahwa ada 7 golongan yang akan dilindungi oleh Allah. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya lekat dengan masjid. Lekat dengan masjid adalah sebuah perumpaan bagi pemuda yang senantiasa menjaga kesuciaan dirinya dan terus berbuat baik bagi dunia ini dengan menjadi orang berguna. Masjid adalah simbol kesalehan. Seorang pemuda yang memiliki kesalehan itu, tentulah seseorang yang istimewa. Karena, bila orang yang sudah tua menjadi saleh, adalah biasa. Namun, seorang pemuda yang saleh, tentulah luar biasa. Sehingganya, wajar bila mereka mendapat “bonus” perlindungan dari Allah.
Begitu pentingnya masa muda ini, maka ada sebuah peringatan yang menyebutkan bahwa 3 hal yang menjadi biang kerusakan seseorang adalah: waktu luang, masa muda dan kekayaan. Bila tiga hal ini, termasuk masa muda, tidak dikelola dengan baik, maka ia akan jadi bara api yang akan mengancurkan sang empunya secara perlahan tapi pasti. Perlu kewaspadaan akan hal ini.
So, selamat memperingati hari Sumpah Pemuda. Teruslah berkarya, teruslah hargai perbedaan, teruslah menjadi Indonesia, dan teruslah menjadi pemuda yang berguna…
Pemuda adalah yang berani mengatakan “Inilah Aku”, bukan yang cuma bisa bilang: “Bapakku adalah…………..”
5 comments Oktober 28, 2009
beauty of blogging
Sejujurnya, aku sudah mempersiapkan diri untuk hadir dalam peluncuran novel sahabatku DM di Jakarta. Untuk itu, akupun sudah merencanakan sebelum kembali ke Jogja dari Bengkulu, aku akan mampir dulu di Jakarta. Tiketpun kubeli; Bengkulu-Jakarta, 22 Oktober 2009 dan Jakarta-Jogja, 24 Oktober 2009 sore. Aku sudah membayangkan akan bertemu sahabat-sahabat blogger yang sering kutemui di dunia maya, secara nyata.
Namun, rencana itu akhirnya gagal. Secara tiba-tiba DM mengumumkan kalau peluncuran novelnya itu ditunda oleh pihak penerbit. Aku kecewa. Tapi, aku tahu betul, DM jauh lebih kecewa. Ingin rasanya kusegera terbang ke Bandung dan bertemu dengannya, duduk di sampingnya, berbagi kekecewaan bersamanya. Namun, kutahu, itu tak perlu kulakukan. Karena, aku sangat yakin, bahwa DM bukanlah anak kemarin sore yang menangis meronta-ronta ketika diambil permennya. Dia adalah batu karang yang kokoh, yang tetap tegar berdiri, meski gelombang menghantam tubuhnya jutaan kali. Keyakinanku itupun terbukti. Coba saja baca postingannya yang berjudul SUKSMA. (lagi…)
5 comments Oktober 24, 2009
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)