Ayat-ayat Cinta: Sabar dan Ikhlas, Itu Islam!

Februari 28, 2008

Luar Biasa! Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku selepas menonton film ini. Aku benar-benar terkesan. Sebuah film yang patut diacungkan dua jempol..!

Aku tidak hendak memberikan ulasan dari segi sinematografi, karena aku tidak punya kapabilitas apa-apa di bidang itu. Dan aku juga tidak bisa membandingkan dengan novelnya, karena aku belum membacanya sama sekali.

Yang ingin kutandasi adalah pesan-pesan indah yang disampaikan oleh film ini. Setidaknya ada satu kalimat penuh makna yang membuat ku berkesan; “Sabar dan Ikhlas, itu Islam!”. Hah… dalam sekali makna kalimat ini. Dan yang lebih membuatku terkesan adalah, cara menyampaikan pesan ini, sama sekali jauh dari kesan menggurui.

Sabar dan Ikhlas, itu Islam!

Kalimat ini diucapkan oleh teman Fahri di penjara. Tidak diceritakan siapa sebenarnya tokoh ini. Hanya saja dari sosok yang terlihat, dia adalah seorang kriminal yang sudah lama mendekam di penjara, kumal dan hampir mirip orang gila.

Kalimat itu diucapkannya, ketika Fahri mencapai puncak keputusasaannya akibat cobaan bertubi-tubi yang dihadapinya. Gara-gara dituduh memperkosa Noura, sang gadis Mesir, dia dipenjara, dan berakibat dia dikeluarkan dari Al-Azhar, universitas tempat dia kuliah. Padahal, tujuannya berada di Negeri Piramid ini adalah untuk menuntut ilmu di universitas terkenal itu. Dan sekarang, semuanya terenggut dari sisinya, hanya gara-gara sebuah fitnah.

Di saat dia mengekspresikan kekecewaannya itulah, sang sahabat satu selnya itu menunjukkan “siapa” dirinya lewat nasehat yang benar-benar pas, dan diikuti dengan ekspresi yang membuat bulu kudukku berdiri. Kira-kira beginilah dialognya:

“Kamu tahu Fahri, apa yang sedang terjadi pada dirimu saat ini?”

“Aku difitnah…!”

“Tidak…! Tapi, ketahuilah, bahwa sesungguhnya, saat ini Allah sedang berbicara kepadamu. Dia berbicara kepadamu lewat penderitaanmu. Dia sedang mengajarimu arti sebuah kesombongan”

“Apa yang aku sombongkan? Aku tidak punya apa-apa. Aku bantu perempuan itu, karena aku menghormati perempuan. Tapi lihat, apa balasannya kepadaku? Dia memfitnahku!”

“Itulah kesombonganmu..! Kamu merasa paling benar! Merasa paling suci! Ingat, ketika Nabi Yusuf dipenjara karena difitnah oleh Zulaikha? Beliau lebih memilih dipenjara. Dalam doanya, beliau berkata: “Ya Allah, jika penjara lebih baik bagiku daripada di alam bebas, maka aku ikhlas menerimanya”. Lihat Fahri, Nabi Yusuf lebih memilih berada di penjara, asal bisa tetap dekat dengan Allah, daripada di alam bebas, tapi berkumpul dengan orang-orang yang penuh dusta!”

“Lantas, aku harus bagaimana?”

“Kamu harus sabar dan ikhlas Fahri, karena itulah inti Islam. Saat ini, kesabaran dan keikhlasanmu atas hidupmu sedang diuji. Jangan pernah putus asa. Jadi ingat, SABAR DAN IKHLAS, ITULAH ISLAM!”

Kalimat ini sangat pas untuk mematahkan pandangan orang terhadap Islam; kasar dan arogan. Setidaknya kesan ini juga digambarkan pada salah scene ketika Fahri untuk pertama kalinya bertemu dengan Aisha, yang kelak jadi istrinya.

Saat itu, di atas kereta listrik, di perjalannya menuju kampusnya, Fahri melihat dua orang Amerika yang diberikan tempat duduk oleh Aisha, didamprat habis-habisan oleh seorang Arab. Si Arab memarahi Aisha atas sikapnya itu, sebab menurutnya, orang kafir, terutama Amerika, haram diberi kemudahan, karena mereka telah banyak berbuat jahat kepada Islam. Fahri membela Aisha, dan berakibat dia berseteru hebat dengan orang Arab tersebut, sampai akhirnya sebuah bogem mentah mendarat di pipi Fahri.

Lucunya, si Arab setiap diucapkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad“, secara otomatis emosinya langsung reda. Tapi, sekejap itu juga, dia kembali marah-marah. Bahkan, di akhir cerita, setelah dia meninju wajah Fahri, dia mengucapkan istighfar dan segera berlalu dari tempat itu, namun tetap sambil mengumpat dengan segala sumpah serapah.

Di sinilah kalimat Sabar dan Ikhlas itu menjadi kalimat kunci. Wajah Islam yang ditunjukkan si Arab tadi, seolah ingin dibantah melalui kalimat ini. Kesabaran dan keikhlasan harus menjadi ciri seorang muslim. Dan itulah Islam yang sesungguhnya, bukan seperti yang ditunjukkan oleh si Arab tadi.

Bravo! Aku benar-benar salut dengan film ini. Idealis, menghibur dan mendidik.  

Entry Filed under: hiburan, pendidikan. Tag: , , , , .

21 Comments Add your own

  • 1. Firman  |  Februari 28, 2008 at 2:27 pm

    Anda beruntung karena menonton filmnya dan belum membaca novelnya. Sebagian orang yg sdh membaca novelnya lalu menonton filmnya justru tengah mencaci dan merasa kecewa terhadap filmnya. Mereka tdk menyadari bahwa film ini sungguh memberikan dampak positive bagi orang2 yg blm pernah membaca novelnya seperti anda. Terlepas dari itu semua, saya pun termasuk org yg salut dan bangga pd film ini, tanpa harus membanding2kan film dan novelnya.
    _____________________

    Alhamdulillah kalau saya dianggap beruntung… :)
    makanya, sekarang saya tidak mau dulu baca buku ‘Ketika Cinta Bertasbih’, nunggu dulu filmnya, baru nanti baca bukunya, biar kesan seperti ini kembali dapat saya rasakan nanti, insya Allah

    Balas
  • 2. heryazwan  |  Februari 29, 2008 at 1:37 am

    Untuk dakwah kepada masyarakat awam, film ini memang sangat pas. Semangat Islam yang damai, toleran, moderat, lembut sangat tercermin pada pribadi Fahri. Gak ada salahnya kalau ente juga beli bukunya untuk koleksi. Si Abang perlu membacanya, biar dia tahu kalau tamat Gontor nanti begitulah suasana di Al Azhar. He he…
    _____________________

    koleksinya sih sudah, tapi belum sempat dibaca, termasuk novel yang lainnya, ntar aja bacanya kalau sudah nonton filmnya, biar seru… hehehe…. :)

    Balas
  • 3. dobelden  |  Februari 29, 2008 at 4:48 am

    hwaaaa…. tetep pengen nonton :(
    ____________________

    kayaknya harus deh… :)

    Balas
  • 4. ritonga  |  Maret 2, 2008 at 7:14 pm

    Q bukanlah seorang novelis tapi Q hnya seorang penikmat noVel. Q bknlah seorang Sutradara atau insan film tapi Q hnya sorang pemirsa film. Q bnr2 kcw dg film AAC..dalam beberapa mlm Q cb melihat ulang tayangan filmnya solah Q g’ pcaya klw tu film AAC. mang hrs diakui bhwa org ind sendiri tdk bs mengangkat nama negaranya dg sswatu. kita dpt melihat org India mengangkat nm negrnya dg film, westlife mengngkt nama negaranya dg Lagu, org brazil/Italy dg olahraga ,so………..with what we are???? that I told to all of my friends with OUR CORRUPTION.
    _____________________

    adalah tugas kita untuk mengangkat nama negara kita, dg cara kita sendiri2. mari memulainya, dari diri kita sendiri dulu… :)

    Balas
  • 5. pras  |  Maret 5, 2008 at 8:15 am

    ILMU BAGI YANG MAMPU BELI TIKET NONTONNYA DOANK…
    ____________________

    mudah2an bagi yg baca blog ini juga dapat ilmu, meski gak bisa nonton… :)

    Balas
  • 6. Firman  |  Maret 5, 2008 at 9:53 am

    Wah… Ternyata byk juga ya yg kecewa sama AAC TM. Hmm… Ada gag ya yg bisa bikin film AAC seindah dan sesempurna novelnya? Yg disetiap scene-nya byk lantunan ayat ayat cinta? Yg bisa lebih terasa unsur ke-Islamannya? Tapi mungkin bisa ampe 10jam-an ya? Ah.. Yg penting kan sesuai novel! Apa mungkin Hollywood bisa membuat film AAC sesuai novelnya? Bagaimana kalu Kang Abik aja yg bikin filmnya? Siapa tau bisa lebih indah dan sesempurna novelnya?! Bisa ga ya? Atau mungkin diantara kalian ada yg bisa? Gw sih ga bisa uy.. Hehe… Atau gag usah dibikin film aja ya? Ah.. Entar malah makin banyak film cinta dan horror yg menyesatkan! 10 jam kelamaan X ya? Tp kan biar sempurna? Gimana kalu dibikin seri aja..? Hmm.. Entar malah kaya sinetron!
    Ayo dong, kalu ada yg bisa bikin film ini sebagus novelnya, gw pasti nonton! Walaupun durasinya harus 10jam, yg penting kan seindah dan sesuai novelnya? Kalo perlu diceritain jg saat Fahri bermimpi tentang Noura dan ketemu sahabat Nabi, atau saat Maria mimpi gabisa masuk surga, kan bisa sempurna tuh! Dan kayanya Qt bakal puas sama filmnya! Tul ga?
    Ada yg pernah tanya sama Kang Abik:
    ”Kok filmnya ga sebagus novelnya?”
    Terus Kang Abik jawab:
    ”Sy maklum film-nya ga sesuai dgn novel, kalo Qt berharap film ini seperti novelnya, biayanya adalah 10 milyar rupiah”
    Waduh… Mahal amat ya? Bahkan tdk ada toleran dari negri Mesirnya sendiri, walaupun uda di discount tetep aja mahal bagi orang Indonesia. Ada ga dari kalian yg berniat membuat film AAC lebih sempurna dan sebagus novelnya? Tapi dgn 10 milyar? Tapi apa hasilnya bakal bagus? Ada gag ya yg berani ambil resiko? Hmm… Ternyata bikin film itu ga mudah ya? Apalagi film tentang Islam. Mesir ko gamau ksh toleran ya? Qt kan sodara? Apa Mesir lebih senang bekerja sama dgn Hollywood yg notabene non-muslim semua? Untung Mas Hanung dpt bantuan dari mahasiswa Al-azhar, jd bisa sedikit ngambil scene disana. Huh… Tapi justru film-nya byk bikin Qt kecewa, katanya kurang sempurna, ga sebagus novelnya, kurang ini lah, kurang itu lah, kasian banget ya? Ayo dong… Ada ga yg bisa bikin film AAC lebih bagus dan sempurna dari film-nya Mas Hanung?? Gw tunggu ya!!
    _____________________

    untuk sebuah kesuksesan, harus selalu ada yang pertama, dan biasanya mereka akan mendapat pujian berlebihan sekaligus juga cacimakian yang tidak sedikit. ujung2nya, para pengekor akan terus bermunculan. hanya saja, secara teori; penggagas pertama inilah yang akan senantiasa dikenang, meski pengekornya jauh lebih bagus darinya; Hanung dkk telah mendapatkan itu… Selamat! :)

    Balas
  • 7. horas  |  Maret 6, 2008 at 2:12 pm

    AAC tinggallah AAC…………..buat apa membangga-banggakan pembohongan publik, shooting di pinggir kali ciliwung ngakunya di mesir.??????memang susah ngeluarin duit klo buat hal-hal yg baik.moga-moga Laskar Pelangi yg menuju layar lebar Jauh lebih baik.,,I wait you ANDREA HIRATA
    _____________________

    duh… segitu sewotnya si Abang… :)
    apapun itu, kita patut menghargai usahanya. setahu saya, visualisasi film tidak mengharuskan keaslian, yg penting pesan yg disampaikan bisa dipahami, dan itu bukanlah dikategorikan sebuah kebohongan. sebagai contoh, apakah film2 bertemakan luar angkasa lantas shootingnya juga harus di luar angkasa? :)

    Balas
  • 8. fauza  |  Maret 7, 2008 at 7:31 am

    Setidaknya, saya melihat sebuah kemajuan dalam industri perfilman Indonesia, sekaligus juga kemajuan masyarakat Indonesia dalam memilih film bermutu. Melihat begitu besarnya antusiasme masyarakat Indonesia dalam menonton film ini, menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat kita sudah tahu mana yang “tontonan” dan mana yang “hiburan”. Bagiku, AAC layak menjadi sebuah TONTONAN…
    _____________________

    setujuuuu….

    Balas
  • 9. ahmad  |  Maret 8, 2008 at 3:45 pm

    flem ini sangat bagus terhadap khyalak masyarakat dan bisa buat manfaat bagi kita terutama mencintai orang ayang disayangi

    Balas
  • 10. ahmad  |  Maret 8, 2008 at 3:47 pm

    flem ini sangat bagus terhadap khyalak masyarakat dan bisa buat manfaat bagi kita terutama mencintai orang yang disayangi dan mencintai tanah air

    Balas
  • 11. sombong  |  Maret 21, 2008 at 11:20 pm

    yang dpt diambil dari film ini :
    1. Manusia semuanya 99% sombong, kecuali yg sabr & ikhlash,
    2. Kalau mau bercermin, bukan hanya dari hal-hal yang baik sj,
    tapi dari sgl cerminan, baik itu air comberan, hingga kaca,
    3. Menghargai sesuatu hasil karya SAMA DENGAN kecewa
    karena membanding-bandingkan, karena kecewa dpt men-
    jadi cara manusia belajar menghargai sesuatu yg diperoleh,
    4. Bila sabr & ikhlash, adalah Islam, maka Kelemahan & keku-
    rangan, adalah manusia,
    jadi tanggapi segalanya dengan positif, adalah cara kita menghargai & mengakui ke-ESA-an SANG MAHA KHALIQ, sehingga melatih diri menjadi mahluq yg rendah hati.

    Balas
  • 12. rusyda  |  Maret 26, 2008 at 7:59 am

    wah..saya belum nonton filmnya, tapi udah baca novelnya. Katanya filmnya ga sebagus novelnya….
    Gmn ya…kalo dari sisi penyajian ide di novelnya masih agak kaku. Mungkin novel ini dapat diterima dari golongan orang2 yang tidak berlatar sastra. Berhubung saya berlatar sastra memang agak susah menerima gaya alur cerita yang seperti ini.
    Tapi idenya bagus banget, banyak mengadopsi kisah2 dari AL Quran dan perjalanan sirah Nabi, seperti saat aisha meminta pamannya untuk melamarkan dirinya pada Fahri. Itu juga yang terjadi pada Khadijah sewaktu menginginkan Rasulullah untuk menjadi suami beliau. Hehe..jaman sekarang ada ga ya cewek setangguh dan seberani Khadijah ini (saya aja ga berani). Cool banget deh…

    Balas
  • 13. febri ardianto  |  Mei 6, 2008 at 1:15 pm

    tolonglah…semua bagian masyarakat yg kecewa thp AAC bs menahan diri…klo memang anda peminat novelnya,harusnya anda bukan seorang yg arogan dengan memaki2 hasil karya bangsa sendiri.setidaknya,berkacalah dulu pd diri anda,mampukah anda lbh baik dr si pembuat film ini?..jika film ini dibuat persis dgn novelnya,bisa menelan 10 milyar,dan berdurasi 10 jam.tentunya makin banyak rakyat indonesia yg tdk akan mampu menontonnya.lalu dimana sisi dakwahnya?bagi anda yg menggembor2kan bahwa film ini tdk sebagus novelnya,pastinya novel AAC benar2 meresap dlm hati anda,dan sekali lg,harusnya jiwa dakwah lah yg muncul dlm diri anda,bukan arogansi yg menghakimi manusia&segala sesuatu dr salah satu sisi..lihat,betapa banyak sisi positive yg bs didapat 4 jt org yg menonton film ini.sampai2 ibu yg menonton dgn anak jejakanya berkata,nak..km hrs seperti fahri..berilmu,saleh,tampan,dan terus belajar sabar dan ikhlas..
    sekali lg,membaca novel dan menonton film bkn hanya utk hiburan,tp utk meresapi pesan2 yg terkandung di dalamnya jg..jgn hanya mennjadi penikmat yg menikmatinya.saya rasa anda yg sudah membaca novelnya,akan jauh lebih meresapi apa yg saya katakan ini,dan seharusnya,anda menjadi lbh bijak..
    semoga islam tdk terpecah,terjaga kemurniannya sepanjang masa,dan salam dakwah..

    wass..
    ____________________

    apapun itu, yg pasti film ini telah menginspirasi banyak orang; entah baik, entah buruk…

    Balas
  • 14. dafi  |  Agustus 20, 2008 at 4:20 am

    -Ternyata Cinta yang sulit dimengerti dalam film itu patut diperjuangkan meskipun sakit,menderita,sedih ,senang dan gembira itu menyelimuti diri…

    -islamnya cinta bisa juga menbutakan cinta dan menggakibatkan fitnah yang tajam bagi diri seorang muslim ..
    hal itulah seorang wanita akan menjadi jelek di mata kaum laki2 …

    -kesadaran dan rasa takut untuk berbuat ..itulah yang selalu menghantui pikiran2 semua manusia …

    -sombong yang dibicarakan dalam islam itu hanyalah bagi orang tidak tau atau dibutakan dalam hawa nafsu yang selalu terjadi di sekeliling dia…

    -bila islamnya kuat, cinta islam dan kesombongan pasti bisa terkontrol bagi dirinya .

    -hanya yang bisa kita ucapkan sabar, ikhlas dan selalu bersyukur dengan apa yang dia punya sekarang.
    ______________________

    setuju…
    marilah menjadi manusia yg senantiasa arif dalam bersikap,
    kesabaran dan keikhlasan akan semakin terasa indahnya bila disikapi dengan kearifan

    Balas
  • [...] yang ditinggalkannya di benakku setelah film ini berakhir tidak sekuat apa yang ditinggalkan film Ayat-Ayat Cinta. Kesan yang ditimbulkannya di hatiku tidak begitu dalam. Soundtrtacknya sepertinya tidak membuat [...]

    Balas
  • [...] yang ditinggalkannya di benakku setelah film ini berakhir tidak sekuat apa yang ditinggalkan film Ayat-Ayat Cinta. Kesan yang ditimbulkannya di hatiku tidak begitu dalam. Soundtrtacknya sepertinya tidak membuat [...]

    Balas
  • 17. dyrly  |  Oktober 17, 2008 at 3:47 am

    film ini penuh retorika belaka (pembohongan publik)
    semua elemen yg terlibat di film ini dlm keseharian ny sama skali bertolak belakang dr pesan yg di sampaikan di film ini…
    rianti sehari2 pake tanktop..??
    ferdi nuril seorang rockstar..??
    kl yg bikin film ja nggak peduli dgn isi pesan di film ini..??
    ngapain kt trenyuh….????

    Balas
  • 18. www.malaka.tk  |  November 15, 2008 at 3:46 pm

    Laptop CAMPAQ,TOSHIBA,ACER,ASUS,DELL,LDC,SONY, Baru 100%, lengkap,harga MURAH
    kami importir batam telah melayani ratusan pembeli.Harga sejutaan.
    dapatkan di http://www.malaka.tk

    Balas
  • 19. budi susena  |  November 24, 2008 at 3:37 am

    saya sudah berkomntar soal film ini di blognya hanung, silakan chek…

    Balas
  • 20. sabar dan ikhlas « Asisrasyid’s Blog  |  November 30, 2008 at 9:17 am

    [...] Februari 28, 2008 pada 2:27 pm [...]

    Balas
  • 21. Renni  |  Januari 4, 2009 at 8:24 am

    Betul… sabar dan ikhlas..itu Islam..

    Saya bisa ngomong, karena sudah pernah ada di titik kehilangan sabar dan ikhlas.. ketika hampir saja saya jg kehilangan Islam…

    Sekilas tertulis di blog saya http://www.buburenni.multiply.com
    _________________

    pengalaman yang menyadarkan,
    terima kasih sudah berbagi
    terima kasih juga sudah berkunjung

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Just a nother way to know

vizon-vredeburg "Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings" (Konfusius)

Halaman

Coretan

Komentar Sahabat

yessymuchtar di kapok
Wempi di kapok
DV di kapok
Incekrajo di pemuda
frezyprimaardi di Ambo…
yessymuchtar di pemuda
frezyprimaardi di beauty of blogging
frezyprimaardi di pulang
frezyprimaardi di man-ja
frezyprimaardi di Ambo…

RSS www.hardivizon.com

RSS Tokoonline Mainan Bocah

RSS Hery Azwan

RSS Mr. Trainer

RSS Omar Bakrie

RSS Marshmallow

RSS Ikkyu_san

RSS juenglala

RSS bu enny

RSS bunda dyah

RSS bu tuti

RSS ajo imoe

RSS penganyamkata

RSS penulis kesepian independen

RSS yessy muchtar

RSS mbakpuak

RSS ria

RSS rang pasisia

RSS catra

RSS sawali tuhusetya

RSS suhadinet

RSS HP

RSS soni

RSS soyjoy

Meta

 

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829